Observasi Tingkat Stres dan Perfomansi Permainan Player Studi Kasus: Game Edukasi ChipMonk Season 1

Riwinoto Riwinoto(1), Amelia Lingga Rizki(2), Rani Salidowati(3),
(1) Program Studi Teknik Multimedia Jaringan Jurusan Teknik Informatika, Politeknik Batam
(2) Program Studi Teknik Multimedia Jaringan Jurusan Teknik Informatika Politeknik Batam
(3) Program Studi Teknik Multimedia Jaringan Jurusan Teknik Informatika Politeknik Batam

Abstract


Game edukasi dapat dijadikan media pembelajaran yang paling efektif karena didalamnya didalamnya ada interaksi, karakter, gambar dan animasi yang dapat meningkatkan kemampuan motorik dan visualisasi anak. Game edukasi juga harus memiliki level dimana tingkat kesulitan haruslah mencukupi, tidak boleh terlalu mudah dan juga tidak boleh terlalu sulit sehingga dapat meminimalisir tingkat stres pemain, dan memaksimalkan tingkat kepuasan pemain. Tingkat kepuasan yang baik akan menimbulkan motivasi pemain menyelesaikan permainan hingga akhir. Penulis mengembangkan game edukasi “ChipMonk Season 1” memadukan unsur edukasi bahasa inggris berbasis 3D yang berfokus pada pengenalan huruf, mulai huruf A -J, dimana anak bermain sekaligus belajar mengenal huruf abjad. Game ini dikembangkan menggunakan IDE Unity 4.0.1 dengan bahasa pemrograman Java Script. Game mempunyai 10 level dimana masing-masing level memiliki tingkat kesulitan yang dibedakan berdasarkan waktu dan huruf yang harus dicari. Selain itu game ini menggunakan karakter utama yang familiar anak yaitu monyet lincah bernama ’Monk’. Berdasarkan uji coba terhadap 30 responden anak-anak berusia 3-5 tahun, hasilnya menunjukkan bahwa desain level pada game ChipMonk Season 1 ini telah memiliki tingkat kesulitan yang mencukupi dimana tingkat stres yang dimiliki pemain mampu membuat pemain semakin termovitasi bermain game.


Full Text:

PDF