Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://journal.uii.ac.id/BIKKM <p>Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat is a peer reviewed journal published by the Faculty of Medicine Islamic University of Indonesia since 2023 with the title Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat, then used to be Scientific Periodical Journal of Medicine and Public Health as a translation.</p> <p><strong>Aims </strong></p> <p>We aim to publish ethically sound and methodologically rigorous scientific research in medicine and public health, including original studies, literature reviews, and case reports.</p> <p><strong>Scopes</strong></p> <p>Appropriate subjects for publication in Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat include:</p> <ul> <li>Anatomy</li> <li>Allergy and Immunology</li> <li>Biomedicine</li> <li>Cancer and stem cells</li> <li>Cardiovascular</li> <li>Cell and molecular biology</li> <li>Child health</li> <li>Dermatology</li> <li>Digital Health</li> <li>Epidemiology</li> <li>Geriatrics</li> <li>Histopathology</li> <li>Hospital Administration and Management</li> <li>Health Administration</li> <li>Healthcare Administration</li> <li>Healthcare Management</li> <li>Internal medicine</li> <li>Microbiology</li> <li>Neuro-psychiatric medicine</li> <li>Ophthalmology and Oral medicine</li> <li>Parasitology, vector biology</li> <li>Pharmacology</li> <li>Physiology</li> <li>Physical medicine and rehabilitation</li> <li>Public Health</li> <li>Pulmonology</li> <li>Radiology</li> <li>Reproductive science</li> <li>Surgery, including orthopaedic and urology</li> </ul> Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia en-US Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat 2988-6791 Penggunaan Digital Subtraction Angiography (DSA) Plus Metode Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) Sebagai Terapi Gangguan Vaskular : Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/43859 <p data-path-to-node="6">Penyakit kardiovaskular terus mengalami peningkatan prevalensi secara global dengan estimasi angka mortalitas mencapai 25 juta jiwa pada tahun 2030. Kondisi ini menuntut inovasi dalam intervensi medis, salah satunya melalui integrasi pemeriksaan Digital Subtraction Angiography (DSA) dengan metode Intra Arterial Heparin Flushing (IAHF) untuk mengatasi gangguan aliran darah akibat obstruksi maupun iskemik. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh metode IAHF terhadap perbaikan sirkulasi darah pada pasien dengan gangguan vaskular tersebut.</p> <p data-path-to-node="7">Metode penelitian yang digunakan adalah <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="40">systematic review</em> (SR) dengan bantuan aplikasi Covidence untuk mengoptimalkan efisiensi dan kolaborasi dalam proses seleksi studi. Penelusuran literatur dilakukan melalui basis data PubMed dan berhasil mengidentifikasi dua publikasi yang memenuhi kriteria relevansi. Hasil sintesis data menunjukkan bahwa metode IAHF memberikan kontribusi klinis yang signifikan dalam memperlancar aliran darah, khususnya pada kasus <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="456">sensory hearing loss</em> dan stenosis pembuluh darah renalis. Implementasi kombinasi DSA dan IAHF berpotensi menjadi modalitas terapi yang efektif dalam manajemen gangguan vaskular kompleks.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> IAHF; DSA; gangguan vaskular; sirkulasi darah; Covidence; stenosis pembuluh darah renalis.</p> Syaefudin Ali Akhmad Isnatin Miladiyah Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Analisis Gangguan Makan pada Remaja dengan Diabetes Mellitus Tipe 1 (Patofisiologi, Instrumen Skrining, dan Strategi Penatalaksanaan Multidisiplin Berbasis Bukti): Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/42763 <p><span style="font-weight: 400;">Gangguan makan pada remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 (DMT1) merupakan masalah klinis kompleks dengan prevalensi mencapai 22,6%, yang didominasi oleh </span><em><span style="font-weight: 400;">other specified feeding or eating disorders</span></em><span style="font-weight: 400;"> (OSFED). Kondisi ini meningkatkan risiko mortalitas hingga tiga kali lipat akibat mekanisme patofisiologi yang melibatkan disfungsi regulasi glukosa dan perilaku maladaptif, seperti manipulasi dosis insulin demi penurunan berat badan. Dampak klinisnya sangat signifikan, mencakup peningkatan risiko ketoasidosis diabetikum (OR 3,2) dan komplikasi mikrovaskular yang berat. Oleh karena itu, parameter klinis seperti HbA1c &gt;9% dan frekuensi rawat inap menjadi indikator krusial dalam pemantauan pasien.</span></p> <p><span style="font-weight: 400;">Skrining dini menggunakan instrumen </span><em><span style="font-weight: 400;">Diabetes Eating Problem Survey-Revised</span></em><span style="font-weight: 400;"> (DEPS-R) terbukti memiliki konsistensi internal yang tinggi dan sangat efektif dalam mendeteksi gangguan secara dini. Penatalaksanaan yang bersifat multidisiplin, melibatkan kolaborasi antara dokter spesialis endokrin, psikiater, dan ahli gizi, terbukti mampu menurunkan angka hospitalisasi hingga 45% serta memperbaiki kontrol glikemik secara substansial. Strategi pencegahan melalui psikoedukasi keluarga dan penerapan protokol standar tidak hanya memperbaiki luaran klinis tetapi juga meningkatkan skor kualitas hidup pasien secara signifikan. Tinjauan ini menegaskan pentingnya integrasi aspek medis dan psikososial dalam tata laksana komprehensif populasi remaja dengan DMT1.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> diabetes mellitus tipe 1; gangguan makan; remaja; manajemen multidisiplin; penyalahgunaan insulin; intervensi berbasis bukti.</span></p> Eska Agustin Putri Susanti Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Potensi Centella asiatica Sebagai Terapi Penyakit Alzheimer: Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/45161 <p data-path-to-node="7">Penyakit Alzheimer merupakan gangguan neurodegeneratif progresif dan multifaktorial yang ditandai dengan hilangnya memori, perubahan kepribadian, serta penurunan fungsi kognitif yang signifikan. Seiring dengan kompleksitas faktor penyebabnya, penggunaan tanaman obat kini semakin diminati sebagai terapi komplementer dan alternatif, salah satunya adalah pegagan (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="363">Centella asiatica</em>). Artikel ini bertujuan untuk menelaah potensi bioaktivitas <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="441">Centella asiatica</em> dalam terapi penyakit Alzheimer berdasarkan bukti-bukti eksperimental terkini. Metode yang digunakan adalah tinjauan literatur sistematis melalui basis data PubMed Central dengan rentang waktu publikasi tahun 2019 hingga 2024 dan kriteria akses teks lengkap gratis (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="725">free full text</em>). Berdasarkan 11 artikel penelitian eksperimental yang dianalisis, studi pada hewan coba menunjukkan bahwa <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="847">Centella asiatica</em> dan senyawa aktifnya, asiaticoside, efektif dalam meningkatkan fungsi kognitif, menghambat stres oksidatif, memodifikasi metabolisme terkait Alzheimer, serta menekan neuroinflamasi. Kesimpulan dari tinjauan ini menegaskan bahwa <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="1093">Centella asiatica</em> memiliki potensi neuroprotektif yang menjanjikan sebagai kandidat modalitas terapi untuk penyakit Alzheimer.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> penyakit Alzheimer; Centella asiatica; fungsi kognitif; neuroprotektif; memori; stres oksidatif.</p> Kuswati Kuswati Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Hubungan Gangguan Psikiatri dengan Kasus Bunuh Diri dan Implikasi dalam Investigasi Kedokteran Forensik: Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/40763 <p data-path-to-node="6">Bunuh diri merupakan tindakan agresif yang disengaja untuk mengakhiri hidup dan menjadi masalah kesehatan global serius dengan estimasi mortalitas mencapai 800.000 kasus per tahun menurut WHO. Lebih dari 90% kasus bunuh diri dan percobaan bunuh diri dilaporkan memiliki kaitan erat dengan gangguan psikiatri sebagai faktor etiologi utama. Tinjauan pustaka ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara gangguan psikiatri dengan insidensi bunuh diri serta implikasinya terhadap pemeriksaan medis. Penulisan dilakukan melalui penelusuran literatur pada basis data PubMed, Mendeley, Science Direct, dan Google Scholar dengan rentang publikasi tahun 2020 hingga 2023. Dari hasil seleksi, diperoleh 9 artikel yang memenuhi kriteria inklusi untuk dianalisis. Hasil tinjauan mengonfirmasi adanya korelasi yang signifikan dimana gangguan psikiatri merupakan faktor risiko dominan dalam kasus bunuh diri. Oleh karena itu, dalam konteks investigasi forensik, autopsi psikologis dan pendalaman riwayat gejala psikiatri ante-mortem pada korban menjadi prosedur krusial untuk menegakkan diagnosis medikolegal.</p> <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> bunuh diri; gangguan psikiatri; kedokteran forensik; faktor risiko; autopsi psikologis.</p> Mia Yulia Fitrianti Ma’rifatul Ula Mustika Chasanatussy Sarifah Said Nur Ikhsan Fachir Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Dimorfisme Tulang Panggul dan Perkiraan Jenis Kelamin pada Kerangka: Arah Masa Depan dalam Literatur Antropologi Forensik: Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/40764 <p><span style="font-weight: 400;">Tulang panggul memiliki fungsi fisiologis yang menghasilkan perbedaan morfologi signifikan antara laki-laki dan perempuan, suatu fenomena yang dikenal sebagai dimorfisme seksual. Dalam lingkup antropologi forensik, karakteristik dimorfisme ini menjadi aspek fundamental dalam diagnosis penentuan jenis kelamin biologis. Secara konvensional, evaluasi fitur dimorfis dilakukan menggunakan metode non-metris melalui pengamatan makroskopis langsung, namun saat ini telah terjadi pergeseran paradigma penelitian menuju metode metris yang lebih objektif. Selain itu, integrasi algoritma </span><em><span style="font-weight: 400;">machine learning</span></em><span style="font-weight: 400;"> pada metode non-metri</span></p> <p><span style="font-weight: 400;"><span style="font-size: 0.875rem; font-weight: bolder;">Kata kunci:</span><span style="font-weight: 400;"> d</span>s kini semakin lazim diterapkan guna mencapai tingkat akurasi estimasi yang lebih presisi. Artikel ini mengulas fitur-fitur anatomis panggul yang menunjukkan dimorfisme, transformasi metodologi dari pendekatan kualitatif ke kuantitatif, serta arah perkembangan penelitian yang berimplikasi pada praktik antropologi forensik modern.</span><span style="font-size: 0.875rem;">imorfisme seksual; tulang panggul; perkiraan jenis kelamin; antropologi forensik; machine learning; metode metris.</span></p> Ayodya Heristyorini Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Instrumen Screening Burnout pada Mahasiswa Kedokteran: Sebuah Tinjauan Pustaka https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/46485 <p>Burnout merupakan sindrom psikologis akibat respons terhadap stres kronis yang sering dialami oleh mahasiswa kedokteran, dengan dampak negatif yang signifikan terhadap kesehatan fisik, mental, dan performa akademik. Identifikasi dini melalui penggunaan instrumen screening yang valid dan reliabel sangat penting untuk mencegah konsekuensi buruk tersebut, seperti keinginan bunuh diri dan penurunan kualitas pelayanan kesehatan di masa depan. Tinjauan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan membandingkan instrumen screening yang tepat untuk mendeteksi burnout pada populasi mahasiswa kedokteran. Berdasarkan penelusuran literatur, terdapat tiga instrumen utama yang sering digunakan dan diadaptasi untuk mahasiswa, yaitu <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="723">Maslach Burnout Inventory-Student Survey</em> (MBI-SS), <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="774">Copenhagen Burnout Inventory-Student Version</em> (CBI-S), dan <em data-path-to-node="3" data-index-in-node="832">Oldenburg Burnout Inventory-Student Version</em> (OLBI-S). MBI-SS merupakan instrumen yang paling luas penggunaannya, mengukur tiga dimensi yaitu kelelahan (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="984">exhaustion</em>), sinisme (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="1006">cynicism</em>), dan efikasi diri (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="1035">professional efficacy</em>). Sementara itu, CBI-S berfokus pada inti fenomena kelelahan fisik dan psikologis, dan OLBI-S menilai dimensi kelelahan serta pelepasan diri (<em data-path-to-node="3" data-index-in-node="1199">disengagement</em>) dari pekerjaan atau studi. Pemilihan instrumen yang tepat sangat krusial sebagai langkah identifikasi awal agar tatalaksana dan intervensi yang sesuai dapat segera diberikan.</p> Ade Indah Wahdini Binta Setya Febrina Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Perbedaan Ketebalan Jaringan Lunak Wajah (Facial Soft Tissue Thickness) Antara Laki-Laki dan Perempuan pada Populasi Deuteromalayid Menggunakan MRI Kepala https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/40688 <p data-path-to-node="6"><strong data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Latar Belakang:</strong> Indonesia merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana alam maupun bencana akibat ulah manusia dengan potensi korban jiwa massal. Sering kali, kondisi jenazah yang ditemukan dalam keadaan lanjut membuat metode identifikasi primer (sidik jari, gigi, DNA) sulit diterapkan. Dalam kondisi tersebut, rekonstruksi wajah menjadi metode alternatif vital, namun akurasinya sangat bergantung pada data referensi ketebalan jaringan lunak wajah (<em data-path-to-node="6" data-index-in-node="453">Facial Soft Tissue Thickness</em>/FSTT) yang spesifik untuk populasi tertentu.</p> <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk mengukur dan menganalisis perbedaan FSTT antara laki-laki dan perempuan pada populasi Deuteromalayid guna menyediakan data referensi dasar bagi rekonstruksi wajah forensik.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Metode:</strong> Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain potong lintang (<em data-path-to-node="8" data-index-in-node="92">cross-sectional</em>). Penelitian dilaksanakan di Instalasi Radiologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada bulan Agustus hingga September 2020. Sampel terdiri dari 30 pasien (15 laki-laki dan 15 perempuan) ras Deuteromalayid yang menjalani pemeriksaan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="333">Magnetic Resonance Imaging</em> (MRI) kepala untuk keperluan diagnostik. Data FSTT diukur secara digital menggunakan perangkat lunak <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="461">Dicom Viewer</em>.</p> <p data-path-to-node="9"><strong data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Hasil:</strong> Hasil pengukuran menunjukkan adanya variasi rerata ketebalan jaringan lunak wajah antara kedua kelompok jenis kelamin. Analisis statistik mengungkapkan perbedaan yang signifikan secara spesifik pada area hidung dan bibir. Sementara itu, pada titik-titik pengukuran area wajah lainnya, meskipun terdapat perbedaan nilai rerata, perbedaan tersebut tidak signifikan secara statistik.</p> <p data-path-to-node="10"><strong data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Simpulan:</strong> Terdapat dimorfisme seksual pada ketebalan jaringan lunak wajah populasi Deuteromalayid, terutama pada regio <em data-path-to-node="10" data-index-in-node="119">mid-face</em> (hidung dan bibir). Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan data spesifik jenis kelamin dalam proses rekonstruksi wajah untuk meningkatkan akurasi identifikasi.</p> <p data-path-to-node="11"><strong data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> <em data-path-to-node="11" data-index-in-node="12">Facial Soft Tissue Thickness</em> (FSTT); Deuteromalayid; rekonstruksi wajah; identifikasi forensik; MRI kepala.</p> Ma’rifatul Ula Mia Yulia Fitrianti Fitrianti Mustika Chasanatussy Syarifah Myrtati Dyah Artaria Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Efek Pemberian Ekstrak Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) terhadap Fungsi Hati Tikus Wistar yang Diinduksi Parasetamol https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/43842 <p><strong>Latar Belakang:</strong><span style="font-weight: 400;"> Parasetamol merupakan obat analgesik-antipiretik yang paling umum digunakan karena memiliki profil efek samping yang relatif minim dibandingkan golongan analgesik lain. Namun, penggunaan jangka panjang atau dosis berlebih dapat memicu kerusakan hati (hepatotoksisitas). Mekanisme kerusakan ini terutama disebabkan oleh akumulasi metabolit toksik </span><em><span style="font-weight: 400;">N-acetyl-p-benzoquinone imine</span></em><span style="font-weight: 400;"> (NAPQI) akibat saturasi jalur glukuronidasi, yang memicu stres oksidatif pada sel hepar.</span></p> <p><strong>Tujuan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas hepatoprotektor ekstrak temulawak (</span><em><span style="font-weight: 400;">Curcuma xanthorrhiza</span></em><span style="font-weight: 400;">) dalam mencegah kerusakan fungsi hati yang diakibatkan oleh induksi parasetamol.</span></p> <p><strong>Metode:</strong><span style="font-weight: 400;"> Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratoris menggunakan 25 ekor tikus putih galur Wistar yang dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif hanya diberikan akuades; kontrol positif diinduksi parasetamol dosis 2 g/kgBB selama tiga hari terakhir; dan tiga kelompok perlakuan diberikan ekstrak </span><em><span style="font-weight: 400;">C. xanthorrhiza</span></em><span style="font-weight: 400;"> dengan variasi dosis bertingkat (800 mg/kgBB, 1600 mg/kgBB, dan 3200 mg/kgBB) sebelum induksi. Parameter kerusakan hati dinilai melalui pengukuran kadar enzim </span><em><span style="font-weight: 400;">Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase</span></em><span style="font-weight: 400;"> (SGOT) dan </span><em><span style="font-weight: 400;">Serum Glutamic Pyruvic Transaminase</span></em><span style="font-weight: 400;"> (SGPT) dari sampel darah sinus orbital.</span></p> <p><strong>Hasil:</strong><span style="font-weight: 400;"> Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh kelompok yang menerima perlakuan ekstrak memiliki kadar enzim transaminase yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol positif. Penurunan kadar SGOT dan SGPT yang paling signifikan dan optimal terlihat pada kelompok perlakuan dengan dosis 800 mg/kgBB, yang mendekati nilai normal.</span></p> <p><strong>Simpulan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Pemberian ekstrak </span><em><span style="font-weight: 400;">Curcuma xanthorrhiza</span></em><span style="font-weight: 400;"> terbukti memiliki efek hepatoprotektif yang efektif terhadap kerusakan hati akibat induksi parasetamol, dengan dosis 800 mg/kgBB sebagai dosis yang memberikan proteksi paling optimal.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> hepatoprotektor; </span><em><span style="font-weight: 400;">Curcuma xanthorrhiza</span></em><span style="font-weight: 400;">; parasetamol; fungsi hati; SGOT; SGPT.</span></p> Muflihah Rizkawati Arini Rizky Wijayanti Nur Aini Djunet Ernadita Budi Astuti Marlina Anggraeni Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Formulasi dan Uji Evaluasi Sediaan Patch Transdermal Ekstrak Kunyit (Curcuma domestica Val) dengan Penambahan Ekstrak Buah Lada Hitam (Piper nigrum L) Sebagai Bioehancer https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/45217 <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Latar Belakang:</strong> Rimpang kunyit (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="32">Curcuma domestica</em> Val) mengandung senyawa kurkumin yang memiliki aktivitas antiinflamasi dan analgesik, namun penghantaran transdermal sering terkendala oleh rendahnya laju penetrasi menembus stratum korneum. Oleh karena itu, diperlukan strategi formulasi menggunakan <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="300">bioenhancer</em> alami, seperti ekstrak buah lada hitam (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="352">Piper nigrum</em> L) yang mengandung piperin, untuk meningkatkan absorpsi perkutan zat aktif dalam sediaan <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="454">patch</em>.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan dan menentukan sediaan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="78">patch</em> transdermal ekstrak rimpang kunyit terbaik dengan variasi konsentrasi <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="154">bioenhancer</em> ekstrak buah lada hitam yang mampu meningkatkan penetrasi kurkumin secara optimal.</p> <p data-path-to-node="9"><strong data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Metode:</strong> Sediaan <em data-path-to-node="9" data-index-in-node="16">patch</em> diformulasikan dalam tiga variasi: F1 (tanpa <em data-path-to-node="9" data-index-in-node="67">bioenhancer</em>), F2 (<em data-path-to-node="9" data-index-in-node="85">bioenhancer</em> ekstrak lada hitam 5%), dan F3 (<em data-path-to-node="9" data-index-in-node="129">bioenhancer</em> ekstrak lada hitam 10%). Evaluasi sediaan meliputi uji mutu fisik (organoleptis, pH, keseragaman bobot, ketebalan, ketahanan lipat) serta uji penetrasi <em data-path-to-node="9" data-index-in-node="293">in vitro</em> menggunakan metode difusi Franz untuk mengukur profil permeasi.</p> <p data-path-to-node="10"><strong data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Hasil:</strong> Seluruh formula memenuhi persyaratan standar mutu fisik sediaan topikal. Hasil uji difusi Franz menunjukkan bahwa F3 (konsentrasi <em data-path-to-node="10" data-index-in-node="137">bioenhancer</em> 10%) memberikan profil penetrasi paling unggul dibandingkan formula lainnya, dengan nilai jumlah kumulatif terpermeasi sebesar 62,626 μg/cm² dan nilai fluks mencapai 112,397 μg/cm².jam.</p> <p data-path-to-node="11"><strong data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">Simpulan:</strong> Penambahan ekstrak buah lada hitam berfungsi efektif sebagai <em data-path-to-node="11" data-index-in-node="71">bioenhancer</em> dalam sediaan <em data-path-to-node="11" data-index-in-node="97">patch</em> transdermal ekstrak kunyit, di mana konsentrasi 10% terbukti sebagai formula terbaik dalam meningkatkan laju penetrasi obat.</p> <p data-path-to-node="12"><strong data-path-to-node="12" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> <em data-path-to-node="12" data-index-in-node="12">patch</em> transdermal; <em data-path-to-node="12" data-index-in-node="31">bioenhancer</em>; <em data-path-to-node="12" data-index-in-node="44">Curcuma domestica</em> Val; <em data-path-to-node="12" data-index-in-node="67">Piper nigrum</em> L; uji difusi Franz; penetrasi obat.</p> Erni Rustiani Elly Kurniawati Marybet Tri Retno Handayani Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Analisis Komparatif Metode Difusi Sumuran dan Difusi Cakram dalam Evaluasi Aktivitas Antibakteri Ciprofloxacin terhadap Escherichia coli ATCC 35218 https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/44954 <p><strong>Latar Belakang:</strong><span style="font-weight: 400;"> Uji aktivitas antibakteri merupakan prosedur fundamental dalam farmakologi untuk menentukan potensi suatu agen antimikroba. Terdapat dua teknik utama dalam metode difusi agar yang umum digunakan, yaitu metode difusi cakram (</span><em><span style="font-weight: 400;">disc diffusion</span></em><span style="font-weight: 400;">) dan difusi sumuran (</span><em><span style="font-weight: 400;">well diffusion</span></em><span style="font-weight: 400;">). Pemilihan metode yang tepat sangat krusial karena variasi teknik dapat memengaruhi akurasi pengukuran zona hambat, terutama pada bakteri patogen seperti </span><em><span style="font-weight: 400;">Escherichia coli</span></em><span style="font-weight: 400;">.</span></p> <p><strong>Tujuan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan sensitivitas antara metode Kirby-Bauer (cakram) dan metode sumuran dalam mengukur diameter zona hambat antibiotik Ciprofloxacin terhadap bakteri </span><em><span style="font-weight: 400;">Escherichia coli</span></em><span style="font-weight: 400;"> ATCC 35218.</span></p> <p><strong>Metode:</strong><span style="font-weight: 400;"> Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratoris. Pengujian dilakukan dengan memaparkan biakan </span><em><span style="font-weight: 400;">Escherichia coli</span></em><span style="font-weight: 400;"> ATCC 35218 terhadap antibiotik Ciprofloxacin menggunakan dua metode difusi yang berbeda. Analisis data dilakukan untuk membandingkan diameter zona hambat yang terbentuk menggunakan uji statistik T berpasangan (</span><em><span style="font-weight: 400;">Paired T-test</span></em><span style="font-weight: 400;">) untuk menentukan signifikansi perbedaan antar kelompok.</span></p> <p><strong>Hasil:</strong><span style="font-weight: 400;"> Hasil pengukuran menunjukkan bahwa metode difusi sumuran menghasilkan diameter zona hambat yang lebih besar dan konsisten dibandingkan metode difusi cakram. Analisis statistik mengonfirmasi bahwa metode sumuran memiliki sensitivitas yang lebih optimal dalam mendeteksi aktivitas antibakteri Ciprofloxacin pada kondisi eksperimental ini.</span></p> <p><strong>Kesimpulan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Terdapat perbedaan yang signifikan antara metode difusi sumuran dan difusi cakram. Metode difusi sumuran terbukti lebih efektif dibandingkan metode cakram dalam pengujian aktivitas antibakteri Ciprofloxacin terhadap </span><em><span style="font-weight: 400;">Escherichia coli</span></em><span style="font-weight: 400;">, sehingga pemilihan teknik difusi harus disesuaikan dengan kebutuhan sensitivitas pengujian.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> uji aktivitas antibakteri; Ciprofloxacin; </span><em><span style="font-weight: 400;">Escherichia coli</span></em><span style="font-weight: 400;">; difusi sumuran; difusi cakram; zona hambat.</span></p> Afivudien Muhammad Eko Andriyanto Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Formulasi dan Efektivitas Nanospray Ekstrak Daun Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Penyembuhan Luka Diabetes Terinfeksi Staphylococcus aureus: Sebuah Studi Eksperimental https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/45190 <p data-path-to-node="6"><strong data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Latar Belakang:</strong> Luka pada pasien diabetes mellitus memiliki kerentanan tinggi terhadap infeksi bakteri <em data-path-to-node="6" data-index-in-node="103">Staphylococcus aureus</em>, yang jika tidak ditangani dengan tepat dapat meningkatkan risiko amputasi dan kematian. Daun kersen (<em data-path-to-node="6" data-index-in-node="227">Muntingia calabura</em> L.) diketahui memiliki aktivitas antibakteri dan antiinflamasi, yang potensinya dapat dioptimalkan melalui sistem penghantaran obat <em data-path-to-node="6" data-index-in-node="378">nanospray</em> untuk meningkatkan penetrasi zat aktif ke dalam jaringan kulit.</p> <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Tujuan:</strong> Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik fisik formulasi <em data-path-to-node="7" data-index-in-node="80">nanospray</em> ekstrak daun kersen dan mengevaluasi efektivitasnya dalam mempercepat penyembuhan luka diabetes yang terinfeksi bakteri pada hewan coba.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Metode:</strong> Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% (1:5) untuk ekstraksi daun kersen. Sediaan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="146">nanospray</em> dibuat dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak: F1 (25 mg), F2 (50 mg), dan F3 (100 mg). Evaluasi sediaan meliputi uji organoleptik, pH, ukuran partikel, dan indeks polidispersitas. Uji efektivitas penyembuhan luka dilakukan secara <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="387">in vivo</em> pada tikus yang diinduksi aloksan dan dipaparkan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="444">S. aureus</em>. Analisis data menggunakan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="481">One Way ANOVA</em> dengan taraf kepercayaan 95%.</p> <p data-path-to-node="9"><strong data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Hasil:</strong> Hasil evaluasi fisik menunjukkan seluruh formula homogen dengan rentang pH 4,7–6,2. Pengukuran ukuran partikel menunjukkan F1 dan F2 memenuhi kriteria nanometer (38,73–47,93 nm), sedangkan F3 berada di atas ukuran nano (&gt;100 nm). Terdapat perbedaan signifikan konsentrasi ekstrak terhadap pH sediaan (p&lt;0,05). Hasil uji <em data-path-to-node="9" data-index-in-node="327">in vivo</em> membuktikan bahwa formula F2 memberikan efek penyembuhan luka diabetes yang paling signifikan (p&lt;0,05) dibandingkan kelompok perlakuan lainnya.</p> <p data-path-to-node="10"><strong data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Simpulan:</strong> Sediaan <em data-path-to-node="10" data-index-in-node="18">nanospray</em> ekstrak daun kersen memenuhi persyaratan mutu fisik sediaan topikal. Formula F2 (50 mg) ditetapkan sebagai formula terbaik karena memiliki karakteristik ukuran partikel nano yang optimal serta efektivitas penyembuhan luka diabetes yang paling tinggi.</p> <p data-path-to-node="11"><strong data-path-to-node="11" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> <em data-path-to-node="11" data-index-in-node="12">nanospray</em>; daun kersen (<em data-path-to-node="11" data-index-in-node="36">Muntingia calabura</em> L.); luka diabetes; <em data-path-to-node="11" data-index-in-node="75">Staphylococcus aureus</em>; penyembuhan luka.</p> Nida Khofiya Puspa Diwana Nurul Marfu’ah Indriyanti Widyaratna Kayla Radina Dwi Putri Hanifa Dyanti Anjani Nandita Aprilia Sari Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Translokasi Alat Kontrasepsi Dalam Rahim ke Kandung Kemih: Sebuah Laporan Kasus https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/44441 <p><strong>Latar Belakang:</strong><span style="font-weight: 400;"> Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) merupakan metode kontrasepsi reversibel yang paling banyak digunakan secara global. Meskipun efektif, metode ini memiliki risiko komplikasi serius seperti perforasi uterus dan migrasi alat ke organ di rongga panggul. Perforasi yang berujung pada migrasi AKDR ke dalam kandung kemih (intravesikal) merupakan fenomena yang sangat jarang terjadi dan dokumentasi kasus serupa dalam literatur medis masih sangat terbatas.</span></p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong><span style="font-weight: 400;"> Kami melaporkan kasus translokasi AKDR ke vesika urinaria pada seorang perempuan berusia 40-an tahun dengan keluhan Infeksi Saluran Kemih (ISK) berulang selama satu tahun. Pasien memiliki riwayat pemasangan AKDR empat tahun pasca persalinan anak ketiga, namun mengalami kehamilan anak keempat satu tahun kemudian dengan posisi AKDR yang tetap terpasang (</span><em><span style="font-weight: 400;">in situ</span></em><span style="font-weight: 400;">). Pemeriksaan ultrasonografi urologi awal mengidentifikasi adanya batu kandung kemih. Konfirmasi diagnosis dilakukan melalui foto polos abdomen yang memvisualisasikan keberadaan AKDR ektopik. Tata laksana dilakukan melalui prosedur minimal invasif berupa sistoskopi dan vesikolitotripsi untuk ekstraksi alat serta fragmentasi batu.</span></p> <p><strong>Simpulan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Kasus ini menekankan pentingnya kewaspadaan klinis terhadap kemungkinan translokasi AKDR pada pasien dengan riwayat kehamilan saat penggunaan kontrasepsi yang disertai gejala ISK berulang. Pemeriksaan radiografi polos merupakan modalitas penunjang yang efektif untuk lokalisasi benda asing, dan intervensi endoskopi seperti sistoskopi dan vesikolitotripsi terbukti efektif sebagai metode manajemen terapeutik.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> translokasi AKDR; kandung kemih; infeksi saluran kemih berulang; sistoskopi; vesikolitotripsi; benda asing intravesikal.</span></p> Bagus Gilang Samudra Proginova Dian Yudatama Ahmad Zulfan Hendri Reza Ishak Estiko Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Pasien Lansia dengan Komorbiditas Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2: Sebuah Laporan Kasus https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/46689 <p><strong><em>Diagnosis dan Tatalaksana Demam Tifoid pada Pasien Lansia disertai Hipertensi dan Diabetes Melitus Tipe 2 </em></strong></p> <p><strong><em>Background</em></strong><em>: Typhoid fever is a systemic infectious disease that remains prevalent in developing countries, including Indonesia. In elderly patients with comorbidities such as hypertension and type 2 diabetes mellitus, typhoid fever may present with atypical clinical manifestations and an increased risk of complications, requiring accurate diagnosis and comprehensive management.</em></p> <p><strong><em>Objective</em></strong><em>: This paper aims to describe the diagnosis and management of typhoid fever in an elderly patient with concomitant hypertension and type 2 diabetes mellitus.</em></p> <p><strong><em>Methods</em></strong><em>: This study is presented as a case report. Data were collected through history taking, physical examination, laboratory investigations, and evaluation of the management provided during the patient’s hospitalization.</em></p> <p><strong><em>Results</em></strong><em>: The elderly patient exhibited atypical clinical features of typhoid fever, supported by positive serological findings. The patient received appropriate antibiotic therapy according to current guidelines, along with optimal management of hypertension and type 2 diabetes mellitus, resulting in clinical improvement during treatment.</em></p> <p><strong><em>Conclusion</em></strong><em>: The diagnosis of typhoid fever in elderly patients with comorbid hypertension and type 2 diabetes mellitus requires a high index of clinical suspicion. Appropriate and integrated management of both the infection and comorbid conditions can lead to favorable clinical outcomes.</em></p> <p><em>Keywords: Typhoid fever; Elderly; Hypertension; Type 2 diabetes mellitus; Management</em></p> <p><strong>Latar Belakang:</strong><span style="font-weight: 400;"> Demam tifoid merupakan penyakit infeksi sistemik yang masih menjadi masalah kesehatan endemik di negara berkembang, termasuk Indonesia. Pada populasi pasien lanjut usia (lansia) dengan komorbiditas seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2, penyakit ini sering kali bermanifestasi dengan gejala klinis yang atipikal serta memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi. Kondisi ini menuntut ketajaman diagnosis dan pendekatan tata laksana yang komprehensif.</span></p> <p><strong>Deskripsi Kasus:</strong><span style="font-weight: 400;"> Kami melaporkan kasus seorang pasien lansia yang menunjukkan gambaran klinis demam tifoid yang tidak khas. Penegakan diagnosis dilakukan melalui anamnesis mendalam, pemeriksaan fisik, serta dikonfirmasi dengan temuan serologis positif. Pasien mendapatkan terapi antibiotik yang sesuai dengan pedoman terkini, bersamaan dengan manajemen optimal untuk mengontrol hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 yang dideritanya. Evaluasi selama perawatan menunjukkan adanya perbaikan klinis yang signifikan.</span></p> <p><strong>Simpulan:</strong><span style="font-weight: 400;"> Penegakan diagnosis demam tifoid pada pasien lansia dengan multipatologi memerlukan indeks kecurigaan klinis yang tinggi mengingat manifestasinya yang sering tersamar. Tata laksana yang tepat dan terintegrasi antara penanganan infeksi akut serta kontrol kondisi komorbid terbukti mampu menghasilkan luaran klinis yang baik.</span></p> <p><strong>Kata kunci:</strong><span style="font-weight: 400;"> demam tifoid; lansia; hipertensi; diabetes melitus tipe 2; tata laksana terintegrasi.</span></p> Eka Maryani Saputri Linda Rosita Andri Rais Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Analisis Temuan Autopsi pada Kasus Kematian Akibat Cedera Otak Traumatik karena Kekerasan Tumpul: Sebuah Laporan Kasus https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/40781 <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Latar Belakang:</strong> Cedera Otak Traumatik (COT) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, khususnya di negara berkembang dengan angka mortalitas yang tinggi pada populasi dewasa muda. Trauma tumpul pada kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya dan sering kali berujung pada kematian akibat kerusakan organ vital, perdarahan intrakranial, serta komplikasi sistemik. Identifikasi patologi forensik yang presisi sangat diperlukan untuk menentukan mekanisme kematian pada kasus kekerasan tumpul (<em data-path-to-node="7" data-index-in-node="520">blunt force trauma</em>).</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Deskripsi Kasus:</strong> Kami melaporkan kasus kematian seorang laki-laki yang diduga akibat penganiayaan massa. Jenazah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk pemeriksaan berdasarkan surat permintaan <em data-path-to-node="8" data-index-in-node="246">visum et repertum</em>. Pemeriksaan luar menunjukkan tanda kekerasan tumpul berupa luka lecet pada regio frontal, labial, dan ekstremitas atas, serta luka memar pada area periorbital dan mukosa bibir. Pemeriksaan dalam (autopsi) mengungkapkan adanya resapan darah pada kulit kepala bagian dalam, perdarahan subaraknoid, perdarahan intraventrikular, serta petekie pada parenkim otak. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi adanya kongesti pembuluh darah yang signifikan pada serebrum dan batang otak.</p> <p data-path-to-node="9"><strong data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Simpulan:</strong> Berdasarkan temuan autopsi dan pemeriksaan penunjang, penyebab kematian disimpulkan sebagai akibat kekerasan tumpul pada kepala yang menyebabkan perdarahan intrakranial masif dan memicu mekanisme asfiksia (mati lemas). Kasus ini menegaskan krusialnya pemeriksaan forensik menyeluruh dalam pembuktian kausalitas kematian pada kasus trauma tumpul.</p> <p data-path-to-node="10"><strong data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> cedera otak traumatik; kekerasan tumpul; autopsi forensik; perdarahan intrakranial; penganiayaan; asfiksia.</p> Setya Aji Priyatna Sari Nur Indahty Purnamaningsih Ahmad Yudianto Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1 Peran Kedokteran Forensik dalam Menentukan Derajat Luka Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga: Sebuah Laporan Kasus https://journal.uii.ac.id/BIKKM/article/view/40782 <h3 data-path-to-node="6"><strong data-path-to-node="6" data-index-in-node="0">Abstrak</strong></h3> <p data-path-to-node="7"><strong data-path-to-node="7" data-index-in-node="0">Latar Belakang:</strong> Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menunjukkan tren peningkatan prevalensi namun sering kali merepresentasikan fenomena gunung es, di mana kasus yang terlaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan kejadian nyata akibat minimnya data valid. Oleh karena itu, pemahaman mengenai peran strategis kedokteran forensik menjadi krusial, baik bagi praktisi medis maupun masyarakat, khususnya dalam aspek pembuktian hukum melalui penentuan derajat luka.</p> <p data-path-to-node="8"><strong data-path-to-node="8" data-index-in-node="0">Deskripsi Kasus:</strong> Kami melaporkan kasus seorang perempuan berusia 33 tahun yang menjadi korban kekerasan fisik oleh suaminya. Pasien datang dengan riwayat trauma tumpul berupa tamparan keras pada regio pipi kiri. Pemeriksaan klinis mengungkapkan adanya keluhan subjektif berupa sensasi berdenging (<em data-path-to-node="8" data-index-in-node="297">tinnitus</em>) dan penurunan fungsi pendengaran pada telinga kiri pasca-trauma, yang mengindikasikan adanya dampak fungsional akibat kekerasan tersebut.</p> <p data-path-to-node="9"><strong data-path-to-node="9" data-index-in-node="0">Simpulan:</strong> Dokter spesialis forensik memegang peranan vital dalam manajemen komprehensif kasus KDRT, yang mencakup pemeriksaan fisik, tata laksana medis, hingga penyusunan <em data-path-to-node="9" data-index-in-node="171">visum et repertum</em>. Penentuan kualifikasi atau derajat luka yang akurat berdasarkan temuan klinis dan dampak fungsional korban merupakan elemen fundamental dalam proses peradilan untuk menjamin keadilan hukum.</p> <p data-path-to-node="10"><strong data-path-to-node="10" data-index-in-node="0">Kata kunci:</strong> kekerasan dalam rumah tangga; kedokteran forensik; derajat luka; visum et repertum; trauma tumpul.</p> Yudi Siswanto Wijaya Sigid Kirana Lintang ` Bhima Tuntas Dhanardhono Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2026-01-31 2026-01-31 4 1