Main Article Content

Abstract

Program menumbuhkan jiwa kewirausahaan di seluruh lapisan masyarakat, menjadi satu hal penting yang harus dilakukan untuk mengatasi dan mengatisipasi pengangguran yang semakin meningkat. Pelatihan kewirausahaan menjadi salah satu solusi sebagai satu upaya menumbuhkan jiwa kewirausahaan di masyarakat. Pondok pesantren adalah salah satu institusi pendidikan nor formal yang ada di Indonesia, yang berfungsi sebagai sumber nilai dan moralitas, untuk mencetak kader-kader yang mumpuni dan ahli dalam bidang keagamaan. Pondok Pesantren Ar Risalah adalah salah satu pondok pesantren yang ada di Dusun Mlangi Nogotirto Sleman. Pondok ini didirikan oleh seorang kyai asli dusun Mlangi bernama Kyai H Abdullah Muhyiddin dengan jumlah  santri saat ini sebanyak 64 santri, yang berasal dari kota-kota di jawa tengah, jawa barat, dan sumatra.  90 % santri berlatar belakang pendidikan formal SMA ke bawah dan tidak melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi.  Muara dari masalah yang dihadapi santri pondok Ar Risalah adalah pada saat mereka sudah menyelesaikan pendidikan di pondok dan pulang ke kampung/kota halaman masing-masing, akhirnya mereka tidak memiliki pekerjaan untuk bekal masa depan. Beberapa santri kemudian berhasil mengembangkan ilmu keagamaannya dengan menjadi guru pengajian di pondok atau mendirikan pondok dengan skala kecil, akan tetapi sebagian yang lainnya yang tidak mampu mengembangkan keilmuannya benar-benar menjadi pengangguran atau bekerja serabutan.

Untuk  menyelesaikan  permasalahan  di atas,  maka  akan  dilakukan  beberapa pelatihan kewirausahaan, baik softskill maupun hardskill training, kepada santri kelompok sasaran sebagai wujud kegiatan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini dipilih, dengan harapan nanti hasil pelatihan akan mampu menumbuhkan semangat dan pengetahuan kewirausahaan bagi peserta pelatihan, dan mereka bisa mulai belajar berwirausaha di pondok sebagai upaya menempa praktek kewirausahaan sekaligus solusi untuk mendapat penghasilan secara mandiri. Muaranya pada saat mereka selesai belajar dari pondok, dan kembali ke komunitasnya, mereka bisa mempraktekkan dan dan mendirikan usaha sebagai bekal hidup. Metode/pendekatan yang dilakukan dalam program pengabdian  adalah   metode partisipatif. Metode ini mencoba menggali tingkat keterlibatan anggota sasaran dalam perencanaan program  dan pengambilan keputusan. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah : 1) Sosialisasi Program dan Training Need Assessment, 2) Perencanaan program pelatihan. 3) Melakukan pelatihan kewirausahaan. 4) Evaluasi pelatihan dan perencanaan tindak lanjut.

Hasil pelatihan dapat dilihat, bahwa pengetahuan serta semangat peserta pelatihan untuk berwirausaha meningkat, hal ini dapat dilihat dari antusiasme peserta mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir, dan adanya niat untuk mendirikan usaha kecil-kecilan di sela-sela kesibukan belajar di pondok.kewirausahaan santri

Keywords

Pelatihan kewirausahaan

Article Details

Author Biography

Maisaroh Maisaroh, Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Indonesia

The future leader