Main Article Content

Abstract

Analisa dan evaluasi deteksi kebohongan merupakan studi yang sangat penting dalam bidang psikologi. Kebohongan dideteksi dengan melihat perubahan emosi yang terjadi pada diri seseorang, kemunculan emosi negatif seperti emosi khawatir dapat dijadikan acuan untuk memperkirakan kebohongan. Salah satu pendekatan yang sering digunakan oleh para psikolog untuk membaca perubahan emosi dengan bahasa non verbal (gesture) pada ekspresi wajah. Pada penelitian ini dihitung probabilitas kebohongan seseorang berdasarkan kemunculan beberapa gesture pada wajah diantaranya, menghindari kontak mata, Pengecilan atau dilatasi pupil, bloking mata, senyum palsu, kerutan pada hidung atau dahi, alis dalam dan luar terangkat. Rekaman video adegan pelaku dengan status bohong atau jujur yang sudah diketahui, terlebih dahulu diamati kemudian diidentifikasi frekwensi kejadian setiap gesture tersebut untuk membentuk dataset training. Selanjutnya dataset tersebut dijadikan dasar untuk melakukan penilaian untuk menentukan level kebohongan pelaku pada rekaman. Untuk menghitung probabilitas jujur atau bohong digunakan pendekatan naïve bayesian.Pendekatan penilaian kebohongan dengan naïve Bayesian tepat untuk mengatasi masalah yang temui pada deteksi kebohongan. Terdapat banyak gejala yang merupakan indikasi kebohongan, namun sejauh ini setiap gejala non verbal bersifat berdiri sendiri, belum diketahui hubungan antara satu gejala dengan gejala yang lain dan gejala ini tidak pasti kemunculan dalam setiap kasus kebohongan. Hal ini menyebabkan ketidak pastian untuk menyusun Base rule secara lengkap dan pasti. Pendekatan Naïve Bayesian memungkinkan memberi solusi atas masalah ini secara tepat, dengan melihat probabilitas setiap gejala non verbal, maka probabilias kebohongan bisa ditentukan secara pasti.

Article Details