Main Article Content

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam idealnya menjadi ruang pembentukan akhlak dan karakter mulia. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik bullying masih terjadi di lingkungan pesantren dalam bentuk verbal, fisik, sosial, maupun cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying santri di pondok pesantren melalui perspektif Teori Ekologi Bronfenbrenner. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terbitan tahun 2013–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan permisif berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku agresif dan kecenderungan bullying pada santri Sebaliknya, pola asuh demokratis (authoritative) berperan protektif dalam membentuk empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial anak. Selain faktor keluarga, pengaruh teman sebaya dan budaya senioritas di pesantren turut memperkuat praktik bullying. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara orang tua dan pesantren dalam menerapkan pola asuh yang sehat serta pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam untuk mencegah bullying.

Keywords

bullying pesantren pola asuh orang tua teori ekologi Bronfenbrenner

Article Details

References

  1. Baumrind, D. (1991). Parenting styles and adolescent development. Journal of Early Adolescence, 11(1), 56–95.
  2. Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development: Experiments by nature and design. Cambridge, MA: Harvard University Press.
  3. Darmayanti, K. K. H., Widiasavitri, P. N., & Laksmiwati, H. (2019). Fenomena bullying pada lembaga pendidikan berbasis agama. Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan, 8(2), 120–131.
  4. Darmayanti, K. K. H., Widiasavitri, P. N., & Laksmiwati, H. (2021). Bullying dan kekerasan psikologis di lembaga pendidikan berbasis agama. Jurnal Psikologi Sosial, 19(1), 44–56.
  5. Emilda, E. (2022). Bullying di pesantren: Jenis, bentuk, faktor, dan upaya pencegahannya. Jurnal Sustainable, 5(2), 198–207.
  6. Espelage, D. L., & Swearer, S. M. (2010). A social-ecological model for bullying prevention and intervention. Dalam S. R. Jimerson, S. M. Swearer, & D. L. Espelage (Ed.), Handbook of bullying in schools (hlm. 61–72). New York: Routledge.
  7. Espelage, D. L., Hong, J. S., & Valido, A. (2020). Understanding bullying from a social–ecological framework. American Psychologist, 75(6), 755–766.
  8. Fadilah, N., Ariantini, N., & Ningsih, S. W. (2023). Fenomena bullying di kawasan pondok pesantren. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 7(2), 145–156.
  9. Georgiou, S. N. (2008). Parental style and child bullying and victimization experiences at school. International Journal of Behavioral Development, 32(3), 231–239.
  10. Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2015). Bullying beyond the schoolyard: Preventing and responding to cyberbullying. Thousand Oaks, CA: Sage.
  11. Hinduja, S., & Patchin, J. W. (2021). Cyberbullying research summary: Trends and prevention. Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking, 24(1), 1–5.
  12. Holt, M. K., Kantor, G. K., & Finkelhor, D. (2008). Parent–child relationships and bullying involvement. Journal of School Psychology, 46(4), 479–493.
  13. Isnawati, I. A., & Yunita, R. (2022). Pengaruh mentoring peer group terhadap perilaku verbal bullying di pondok pesantren. Jurnal Keperawatan, 20(4), 103–110.
  14. Laeheem, K., Kuning, M., & McNeil, N. (2009). Bullying behavior among adolescents. Journal of Social Sciences, 5(3), 245–252.
  15. Lestari, S. (2016). Psikologi keluarga: Penanaman nilai dan penanganan konflik dalam keluarga. Jakarta: Kencana.
  16. Nansel, T. R., Overpeck, M., Pilla, R. S., Ruan, W. J., Simons-Morton, B., & Scheidt, P. (2001). Bullying behaviors among U.S. youth: Prevalence and association with psychosocial adjustment. JAMA, 285(16), 2094–2100.
  17. Olweus, D. (1993). Bullying at school: What we know and what we can do. Oxford: Blackwell.
  18. Rigby, K. (2003). Consequences of bullying in schools. Canadian Journal of Psychiatry, 48(9), 583–590.
  19. Santrock, J. W. (2018). Adolescence (15th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  20. Santrock, J. W. (2023). Adolescence (18th ed.). New York: McGraw-Hill Education.
  21. Setiowati, E. (2020). Pola asuh orang tua dalam pencegahan bullying pada anak. Jurnal Pendidikan Anak, 6(2), 88–99.
  22. Smith, P. K., Cowie, H., & Sharp, S. (2013). School bullying: Insights and perspectives. London: Routledge.
  23. Ttofi, M. M., Farrington, D. P., & Lösel, F. (2022). School bullying prevention: A meta-analytic review. Aggression and Violent Behavior, 62, 101680.
  24. Ulum, M. M. (2021). Sirkulasi sosiologis dan psikologis dalam fenomena bullying di pesantren. Jurnal Pendidikan Islam, 12(1), 55–68.
  25. Wang, J., Vaillancourt, T., Brittain, H., & McDougall, P. (2022). School climate, bullying, and mental health. Journal of School Psychology, 90, 1–14.
  26. Widodo, A. (2021). Pola asuh orang tua dan perilaku agresif remaja. Jurnal Psikologi Pendidikan, 9(1), 33–45.
  27. Ybarra, M. L., Mitchell, K. J., & Korchmaros, J. D. (2023). Digital aggression and adolescent mental health. Journal of Adolescent Health, 72(2), 177–184.
  28. Zain, S. H. W., Wilis, E., & Sari, H. P. (2024). Peran pendidikan Islam dalam pembentukan karakter berbasis nilai Al-Qur’an dan Hadis. IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, 2(4), 199–215.
  29. Zulfahmi, M. (2013). Budaya senioritas dan kekerasan simbolik di pesantren. Jurnal Sosial Keagamaan, 8(1), 71–84.