At-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam
https://journal.uii.ac.id/thullab
<span>at-Thullab Journal is Islamic Studies Student journal published by the Faculty of Islamic Studies in the Islamic University of Indonesia in 2019 which is published twice a year as a journal which becomes a forum for students to improve their abilities in the fields of Islamic Law, Islamic Education and Islamic Economics into Indonesian, English and Arabic.</span>Universitas Islam Indonesiaen-USAt-Thullab : Jurnal Mahasiswa Studi Islam2685-8924<p>Authors who publish with this journal agree to the following terms:</p><ul><li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="https://creativecommons.org/licenses/by-nc/4.0/" target="_blank">Creative Commons Attribution License</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li></ul><ul><li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li></ul><ul><li>Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.</li></ul>KONSEP PEDAGOGIK TAFAQUH FIDDIN MENURUT IMAM ASY-SYAFI’I: (SUATU ANALISIS IMPLEMENTATIF)
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/40634
<p><em>Dalam Islam pendidikan memiliki tujuan utama membentuk manusia yang memahami dan menjalankan syariat secara benar, sesuai ajaran Al-Qur'an dan Hadis. Artikel ini bertujuan memberikan wawasan tentang implementasi konsep tafaquh fiddin dalam pembelajaran, baik secara teoritis maupun praktis. Artikel ini membahas konsep pedagogik tafaquh fiddin menurut Imam Asy-Syafi'i, yang merupakan bagian penting dalam pendidikan Islam untuk mendalami dan memahami agama secara mendalam. Tafaquh fiddin bukan hanya upaya intelektual dalam mempelajari ilmu agama, tetapi juga mencakup dimensi etis dan spiritual dalam praktik kehidupan sehari-hari. Artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (library research), mengkaji literatur utama dari karya-karya Imam Asy-Syafi'i. Dapat disimpulkan bahwa tafaquh fiddin mencakup pengembangan intelektual, spiritual, dan moral melalui pembelajaran yang berpusat pada pemahaman mendalam terhadap agama. Implementasi konsep ini relevan untuk membangun kurikulum pendidikan Islam yang holistik, yang tidak hanya menanamkan nilai-nilai agama tetapi juga mendorong pengamalan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.</em></p>Miftahul JannahWarul WalidinAhmad Syauky
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108111910.20885/tullab.vol8.iss1.art1MODEL PENALARAN DUNIA BARAT SERTA RELEVANSINYA DALAM ILMU, KEHIDUPAN, DAN AGAMA
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/44289
<p>Penelitian ini membahas tiga jenis penalaran utama dalam tradisi Barat yakni deduktif, induktif, dan abduktif serta relevansi ketiganya dalam konteks ilmu pengetahuan, kehidupan sehari-hari, dan agama. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap berbagai literatur klasik dan kontemporer dalam bidang filsafat, logika, dan teologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penalaran deduktif berperan penting dalam pembentukan argumentasi logis, penalaran induktif dalam pengembangan teori berdasarkan pengalaman empiris, dan penalaran abduktif dalam merumuskan hipotesis awal terhadap fenomena yang tidak pasti. Ketiganya saling melengkapi dalam proses berpikir ilmiah, sosial, maupun spiritual. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman yang mendalam terhadap ketiga bentuk penalaran tersebut dapat memperkuat rasionalitas, memperkaya metode ilmiah, serta menumbuhkan respons keagamaan yang adaptif dan kontekstual.</p>Sofiatul HusnaUsman
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-1081204110.20885/tullab.vol8.iss1.art2KONSEP GHOSTING DAN INGKAR JANJI DALAM TAFSIR AN-NUR
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/41014
<p><em>Fenomena ghosting dan ingkar janji merupakan bentuk perilaku sosial yang mencerminkan melemahnya rasa tanggung jawab dalam menjalin relasi antarmanusia. Ghosting dipahami sebagai tindakan memutus komunikasi secara sepihak tanpa memberikan penjelasan, sedangkan ingkar janji merujuk pada pelanggaran terhadap kesepakatan atau komitmen yang telah dibuat. Kedua perilaku ini semakin marak terjadi, khususnya di kalangan generasi muda, seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji ghosting dan ingkar janji dalam perspektif Islam melalui analisis terhadap Tafsir An-Nur karya Hasbi Ash-Shiddieqy, dengan fokus pada ayat-ayat yang menyinggung larangan perilaku ghosting dan ingkar janji yang dapat merugikan orang lain. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Hasil kajian menunjukkan bahwa ghosting dan ingkar janji bertentangan dengan nilai-nilai amanah dan etika pergaulan sebagaimana dijelaskan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam penafsirannya. Tafsir An-Nur menekankan pentingnya menjaga integritas pribadi, menunaikan janji, serta menghormati hak-hak orang lain dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, kedua perilaku tersebut tidak hanya menyalahi norma moral, tetapi juga bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an yang menuntut tanggung jawab dan etika dalam berinteraksi.</em></p>Nabila Najwa A.PIpmawan Muhammad IqbalSiti Rohani
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-1081425510.20885/tullab.vol8.iss1.art3ETIKA MALU DALAM AL-QUR’AN (STUDI TEMATIK AYAT-AYAT TENTANG SIFAT MALU DALAM TAFSIR AL-AZHAR
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/41016
<p><em>Etika merupakan aspek fundamental dalam ajaran Islam yang mencakup berbagai nilai moral, salah satunya adalah sifat malu (ḥayā’). Sifat ini memiliki peran penting sebagai penjaga integritas moral dan spiritual seorang Muslim. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat konsep sifat malu, serta mengevaluasi tafsir Buya Hamka terhadap ayat-ayat tersebut sebagaimana tercantum dalam Tafsir al-Azhar. Pendekatan yang digunakan dalam studi ini adalah tafsir tematik (maudhu’i) dengan metode kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur’an mengandung sejumlah nilai yang menekankan pentingnya rasa malu, baik dalam interaksi sosial, tata cara berpakaian, maupun dalam sikap seorang hamba terhadap Tuhannya. Buya Hamka, dalam tafsirnya, menekankan bahwa malu bukan semata-mata etika personal, melainkan mencerminkan dimensi sosial dan spiritual yang luas. Dengan memahami konsep etika malu dalam Al-Qur’an melalui perspektif Tafsir al-Azhar, diharapkan pembaca memperoleh pemahaman yang mendalam dan relevan untuk diterapkan dalam kehidupan kontemporer yang cenderung mengabaikan nilai-nilai kesantunan dan adab.</em></p>Nabiilah MujahidahMuhammad Mukharom RidhoFajar Novitasari
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-1081567010.20885/tullab.vol8.iss1.art4PERAN PELAKSANAAN MANAJEMEN DALAM MENINGKATKAN EFEKTIVITAS IMPLEMENTASI KURIKULUM DI MTS AL-IKHLAS PROKLAMASI KARAWANG
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/41188
<p><em>Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyelidiki secara mendalam fungsi dan kontribusi dari pelaksanaan manajemen dalam meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum di lembaga pendidikan. Manajemen yang baik merupakan kunci untuk mencapai tujuan pendidikan yang optimal, terutama dalam konteks kurikulum yang dinamis. Pendekatan yang diterapkan dalam studi ini adalah kualitatif, dengan cara pengumpulan data melalui wawancara, observasi, serta analisis dokumen. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa penerapan manajemen yang efisien, termasuk tahap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi, berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan implementasi kurikulum. Perencanaan yang sistematis memungkinkan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal. Selain itu, pengorganisasian sumber daya manusia dan material yang efisien mendukung proses belajar mengajar yang lebih terstruktur. Pelaksanaan kurikulum yang terencana dan terarah, didukung oleh evaluasi yang berkelanjutan, memastikan bahwa setiap elemen kurikulum dilaksanakan sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, siswa, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Dengan demikian, manajemen yang efektif bukan hanya memperbaiki kualitas pendidikan Selain itu, juga membangun kolaborasi yang harmonis di antara seluruh pihak yang berperan dalam proses pendidikan. Rekomendasi dari penelitian ini adalah perlunya pelatihan manajerial bagi pendidik untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola kurikulum secara efektif, sehingga Tujuan pendidikan dapat direalisasikan secara lebih efektif melalui berbagai upaya yang tepat.</em></p> <p> </p>Durrota RiyasyahIqbal Amar MuzakiAfiyatun Kholifah
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-1081718210.20885/tullab.vol8.iss1.art5PENERAPAN DEEP LEARNING UNTUK MEMBANTU PERKEMBANGAN KECERDASAN INTERPERSONAL DALAM MENCAPAI 8 DIMENSI PROFIL LULUSAN
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/41040
<p><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Di era digital saat ini, integrasi teknologi dalam proses pembelajaran menjadi kebutuhan mutlak. Salah satu teknologi yang menunjukkan potensi besar adalah deep learning, sebuah cabang dari kecerdasan buatan yang mampu mempelajari pola kompleks dari data. Artikel ini membahas penerapan deep learning sebagai alat untuk menganalisis, memadukan, dan mengembangkan kecerdasan interpersonal siswa dalam rangka mendukung pencapaian 8 dimensi profil lulusan, sebagaimana ditetapkan oleh kebijakan pendidikan nasional. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi bagaimana model </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Deep Learning</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> , khususnya dalam pengolahan bahasa alami dan analisis emosi, dapat digunakan untuk merancang sistem pembelajaran adaptif yang mampu memfasilitasi interaksi sosial, empati, serta kolaborasi peserta didik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dengan pengumpulan data melalui buku, jurnal dan penelitian terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem berbasis </span></span><em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;">Deep Learning</span></span></em><span style="vertical-align: inherit;"><span style="vertical-align: inherit;"> mampu meningkatkan respon empatik, keterampilan komunikasi, serta kerja sama antarpeserta didik. Selain itu, teknologi ini juga terbukti efektif dalam memberikan umpan balik otomatis yang kontekstual dan personal. Temuan ini menunjukkan potensi integrasi kecerdasan buatan dalam mendukung dimensi "Berkebinekaan Global" dan "Bergotong Royong" dalam Profil Pelajar Pancasila, serta membuka ruang inovasi dalam pedagogi berbasis data dan personalisasi pembelajaran. Rekomendasi penelitian meliputi pengembangan sistem yang lebih luas dan integrasi dengan kurikulum Merdeka Belajar.</span></span></p>Ravita Dewi Ardi WinartaM. Hajar Dewantoro
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-1081839410.20885/tullab.vol8.iss1.art6EPISTEMOLOGI ILMU SOSIAL: SEBUAH KOMPARASI PARADIGMA ISLAM DAN BARAT
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/41557
<p>Ilmu sosial kontemporer banyak dibangun di atas epistemologi Barat yang berakar pada rasionalisme dan empirisme, sehingga cenderung memisahkan aspek moral dan spiritual dari proses pengetahuan. Namun, perspektif ini memperoleh kritik dari tradisi Islam yang memandang wahyu dan akal sebagai sumber ilmu yang saling melengkapi. Penelitian ini bertujuan mengkomparasi paradigma epistemologis, tujuan, dan aksiologi ilmu sosial dalam budaya Barat dan Islam, guna merumuskan model keilmuan yang relevan bagi masyarakat Muslim kontemporer. Metode yang digunakan adalah studi kualitatif dengan pendekatan komparatif melalui studi dokumen terhadap buku dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan epistemologi Barat menekankan netralitas nilai, rasionalitas instrumental, dan tujuan pragmatis-teknokratik, sementara itu epistemologi Islam memadukan wahyu, akal, empiris, dan intuisi, sehingga ilmu sosial diarahkan untuk transformasi sosial yang berkeadilan dan mendekatkan manusia pada nilai transendental. Aksiologi Islam menekankan integrasi etika dan spiritualitas dalam penerapan ilmu, menjadikannya alternatif penting di tengah krisis moral modern. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan normatif-transendental Islam menawarkan paradigma ilmu sosial yang lebih utuh, humanistik, dan relevan dalam menjawab tantangan kontemporer.</p>Idnur Tri Al RizqiMashdalia Sinta NabilahMiska FebriantiOnes Lintang NindyasariSyalma Nur FitrianyArmai Arief
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108150652310.20885/tullab.vol8.iss1.art7MODEL PENDIDIKAN CONSCIENTIZATION PAULO FREIRE: KONTRIBUSI BAGI PENGEMBANGAN ILMU PAI
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/113-124
<p>Artikel ini mengkaji kontribusi model pendidikan <em>conscientization</em> Paulo Freire bagi pengembangan Ilmu Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam konteks kontemporer. Kritik Freire terhadap <em>banking education</em> menunjukkan perlunya pendidikan yang dialogis dan membebaskan, sehingga peserta didik tidak hanya menjadi objek penerima informasi, tetapi subjek yang mampu berpikir kritis dan melakukan tindakan transformatif. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka terhadap karya-karya Freire dan literatur terkini terkait pedagogi kritis serta pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa konsep penyadaran relevan dengan prinsip pendidikan Islam yang menekankan integrasi akal, iman, dan amal. <em>Conscientization</em> memperkaya epistemologi PAI dengan menghubungkan pembacaan teks keagamaan dan realitas sosial, serta menawarkan pendekatan problem-posing sebagai alternatif pembelajaran yang lebih dialogis dan partisipatif. Selain itu, pendekatan ini mendorong penguatan literasi digital kritis, pengembangan kurikulum yang kontekstual, dan reposisi peran guru sebagai fasilitator penyadaran. Dengan demikian, model pendidikan penyadaran Freire memiliki kontribusi signifikan bagi rekonstruksi tujuan, metodologi, dan praksis PAI agar lebih humanis, kritis, dan responsif terhadap tantangan zaman</p>MulyadiUsmanSibawaihi
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108110.20885/tullab.vol8.iss1.art8FENOMENA KESEJAHTERAAN GURU AGAMA YANG RENDAH DALAM PERSPEKTIF MAQASID SYARIAH
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/44905
<p>Penelitian ini mengkaji fenomena rendahnya kesejahteraan guru agama di Indonesia melalui perspektif <em>Maqasid S</em><em>y</em><em>ar</em><em>i</em><em>‘ah</em>. Meskipun pemerintah telah berupaya meningkatkan tunjangan, sebagian besar guru agama non-PNS masih menerima kompensasi yang tidak memadai, jauh di bawah standar hidup layak. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesejahteraan guru agama berdasarkan lima tujuan utama <em>Maqasid Syari‘ah</em>, yaitu: pemeliharaan agama (<em>hifz</em><em> din</em>), jiwa (<em>hifz nafs</em>), akal (<em>hifz</em><em> ‘aql</em>), keturunan (<em>hifz nasl</em>), dan harta (<em>hifz</em><em> mal</em>). Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, data diperoleh dari al-Qur’an, hadis, karya ulama klasik dan kontemporer, serta laporan resmi Kementerian Agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi yang dialami guru agama tidak hanya memengaruhi kesejahteraan material mereka, tetapi juga mengganggu kapasitas spiritual, intelektual, dan sosialnya. Kondisi ini bertentangan dengan prinsip dasar hukum Islam mengenai keadilan dan martabat manusia. Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan guru bukan sekadar persoalan administratif, melainkan kewajiban moral dan teologis yang sejalan dengan tujuan <em>Maqasid syari‘ah </em>dalam mewujudkan keadilan (<em>‘adl</em>) dan kemaslahatan umum (<em>maslahah</em>) dalam pendidikan Islam.</p>Asma’ Fauziah SaidahNuur Marfu'athusZahidah Fauziyah
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108112514110.20885/tullab.vol8.iss1.art9KHURAFAT BULAN SHAFAR DALAM PERSPEKTIF HADIS: STUDI ATAS FENOMENA KEPERCAYAAN UNLUCKY DAY DI KALANGAN GEN Z
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/44703
<p>Artikel ini mengkaji khurafat atau kepercayaan mistis yang berkembang seputar bulan Shafar melalui analisis tematik hadis serta melihat fenomena kepercayaan unlucky day di kalangan gen z. Di masyarakat beredar berbagai riwayat yang menyebutkan bahwa bulan Shafar membawa kesialan, bala, atau pertanda buruk. Narasi tersebut tidak hanya bertentangan dengan prinsip tauhid, tetapi juga berseberangan dengan hadis-hadis sahih yang secara tegas menolak segala bentuk takhayul dan tatayyur. Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri keabsahan hadis-hadis yang berkaitan dengan khurafat bulan Shafar sekaligus mengidentifikasi bagaimana kepercayaan terhadap hari atau bulan sial tetap bertahan dan muncul kembali dalam budaya modern, khususnya di kalangan milenial yang dipengaruhi oleh media sosial,konten viral, dan tren astrologi digital. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif berbasis studi literatur dengan fokus pada analisis tematik terhadap hadis-hadis dalam kitab-kitab primer.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa hadis yang menyebutkan kesialan bulan Shafar berstatus lemah (da‘if) bahkan sebagian tergolong palsu (maudhu‘). Sebaliknya, hadis sahih seperti “lā shafara” justru menegaskan bahwa Islam tidak mengakui adanya hari atau bulan yang membawa sial. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keyakinan terhadap bulan Shafar sebagai bulan naas tidak memiliki dasar hadis yang valid dan bahwa fenomena unlucky day pada gen Z lebih dipengaruhi oleh budaya populer dan turun temurun sejak masa para islam serta adanya konstruksi digital kontemporer daripada ajaran agama.</p> <p> </p>Nadia ilma IlmaMohammad Hamsa Fauriz
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108114215610.20885/tullab.vol8.iss1.art10RESILIENSI IDENTITAS SOSIAL ISLAM MELALUI PELESTARIAN KEARIFAN LOKAL DI ERA GLOBALISASI
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/44971
<p><em>Era globalisasi telah memunculkan dinamika sosial yang kompleks dan sering kali menantang stabilitas identitas keagamaan, termasuk dalam komunitas Muslim yang memiliki akar budaya lokal yang kuat. Arus informasi global, budaya populer, dan nilai-nilai transnasional kerap menekan identitas lokal, sehingga memicu apa yang disebut sebagai krisis identitas sosial. Dalam konteks ini, pelestarian kearifan lokal menjadi semakin signifikan sebagai mekanisme pertahanan budaya sekaligus penopang identitas Islam yang inklusif dan adaptif. Kajian pustaka dari berbagai disiplin studi Islam, sosiologi, dan antropologi budayamenunjukkan bahwa kearifan lokal bukan sekadar warisan budaya, tetapi mengandung nilai, simbol, dan praktik sosial yang memiliki kesesuaian mendalam dengan ajaran Islam. Tradisi seperti selamatan, gotong royong, takziah, dan tradisi keagamaan lokal lain, ketika dipadukan dengan nilai-nilai Islam, berfungsi sebagai media internalisasi ajaran agama yang membumi dan mudah diterima masyarakat. Integrasi inilah yang menjadikan identitas sosial Islam tetap kuat di tengah gempuran globalisasi. Lebih jauh, kearifan lokal berperan sebagai benteng resiliensi sosial, karena mampu menjaga kohesi komunitas dan meneguhkan rasa memiliki. Dengan mempertahankan tradisi lokal yang selaras dengan nilai Islam, komunitas Muslim tidak hanya menjaga kontinuitas budaya, tetapi juga membangun identitas keagamaan yang otentik, fleksibel, dan relevan dengan tantangan zaman.</em></p>Mohammad Ali AliYudik PradanaM. Khusna AmalAbd. Halim SoebaharMursalim
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108115717310.20885/tullab.vol8.iss1.art11INTEGRATING ISLAMIC ENVIRONMENTAL ETHICS, STATE REGULATORY SYSTEMS, AND BEHAVIORAL GOVERNANCE TO STRENGTHEN WASTE MANAGEMENT PRACTICES
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/45638
<p><em>This study examines poor waste management as an environmental, ethical, and governance challenge by integrating insights from Islamic jurisprudence, state regulations, and behavioral governance. The aim is to explain how ecological degradation arises from human behavior that contradicts religious principles and formal waste management laws, and to propose a conceptual model linking ethical norms to regulatory mechanisms and behavior. Using a qualitative conceptual methodology, the study analyzes scriptural sources, classical jurisprudential reasoning, national waste regulations, and descriptive evidence of environmental conditions to build an interdisciplinary understanding of this issue.</em></p> <p><em>The results show that Islamic jurisprudence establishes clear prohibitions against actions that result in environmental damage, framing waste pollution as a violation of ethical and legal obligations. National regulations also mandate responsible waste management practices, yet poor management persists because behavioral changes have not aligned with legal expectations. This analysis highlights the central role of human behavior as a determining factor in waste governance, illustrating how religious education, societal norms, and institutional policies shape or hinder responsible practices. The integrated model developed in this study demonstrates that effective waste governance requires the convergence of moral awareness, legal enforcement, and behavioral adaptation. This study concludes that sustainable environmental management in a Muslim-majority context depends on aligning internal ethical motivations with external regulatory frameworks. This conceptual integration offers a foundation for future empirical research and suggests new pathways for policy design, community engagement, and faith-based environmental education</em></p>Nur Kholis
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2025-12-252025-12-258117419610.20885/tullab.vol8.iss1.art12TEKNIK MULAZAMAH DENGAN DUDUK BERSILA DILANTAI DALAM PERSPEKTIF KESEHATAN
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/45489
<p><em>Penelittian ini menelaah teknik mulazamah yang dalam praktiknya sering dilakukan dengan duduk bersila di lantai dalam durasi yang relatif panjang, serta implikasinya dari perspektif kesehatan. Penelitian menggunakan tinjauan pustaka naratif-terstruktur dengan menelusuri literatur terkait (1) mulazamah dalam tradisi pembelajaran pesantren dan (2) kajian kesehatan/ergonomi tentang duduk lantai, postur bersila, perilaku duduk statis, dan keluhan muskuloskeletal. Hasil sintesis menunjukkan bahwa duduk bersila di lantai yang dipertahankan lama berpotensi berkaitan dengan keluhan seperti pegal pada punggung bawah, ketegangan otot, rasa kebas, dan ketidaknyamanan pada panggul atau lutut, terutama bila postur cenderung membungkuk, tumpuan tidak seimbang, serta minim variasi posisi. Dalam konteks mulazamah, faktor adab dan kekhidmatan majelis dapat membuat peserta didik menahan gerak sehingga durasi postur statis meningkat. Kajian ini merekomendasikan strategi yang tetap selaras dengan adab mulazamah: edukasi postur duduk yang lebih tegak dan seimbang, variasi posisi dan pergantian silang kaki, penggunaan alas duduk/penyangga kitab yang sederhana, serta penerapan microbreak singkat dan tertib pada titik transisi materi. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan postur agar mulazamah berkelanjutan dan lebih ramah kesehatan.</em></p>Rosifatur Rosyidah RosyidahAulia Rahma ShiddiqSalma Labibah
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108119720810.20885/tullab.vol8.iss1.art13KEDUDUKAN TRANSGENDER DALAM HUKUM POSITIF INDONESIA DAN PERSPEKTIF FIKIH MAZHAB SYAFI’I
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/44796
<p>Fenomena transgender merupakan realitas sosial yang semakin mendapat perhatian dalam diskursus hukum dan keagamaan di Indonesia. Keberadaan transgender menimbulkan persoalan hukum yang kompleks karena berhadapan dengan sistem hukum nasional yang masih berlandaskan pada pengakuan dua jenis kelamin, serta nilai-nilai keagamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan transgender dalam hukum positif Indonesia serta pandangan hukum Islam menurut perspektif fikih mazhab Syafi’i. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari peraturan perundang-undangan yang relevan, literatur fikih mazhab Syafi’i, serta artikel jurnal ilmiah yang membahas isu transgender dari perspektif hukum dan keislaman. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif-analitis dan komparatif untuk membandingkan pengaturan dan konstruksi hukum transgender dalam hukum positif Indonesia dan hukum Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum positif Indonesia belum mengatur secara eksplisit kedudukan transgender. Pengakuan negara terhadap transgender masih terbatas pada aspek administratif melalui mekanisme penetapan pengadilan, tanpa disertai perlindungan hukum yang komprehensif. Kondisi ini menimbulkan ketidakpastian hukum dan membuka ruang terjadinya diskriminasi. Sementara itu, dalam perspektif fikih mazhab Syafi’i, perubahan jenis kelamin tanpa dasar medis yang sah dipandang sebagai perbuatan yang dilarang karena termasuk dalam kategori taghyīr khalqillāh. Namun, perilaku tersebut tidak secara otomatis dikenai sanksi hudūd, melainkan ditempatkan dalam ranah ta‘zīr yang penentuannya diserahkan kepada otoritas yang berwenang. Dengan demikian, baik hukum positif Indonesia maupun fikih mazhab Syafi’i sama-sama belum memberikan legitimasi penuh terhadap perubahan identitas gender, meskipun tetap mengakui transgender sebagai manusia yang memiliki hak dasar yang harus dihormati.</p>aisyah abdurahmanDeva Nur SyahroniNafasa Azka Salsabila
Copyright (c) 2025
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108110.20885/tullab.vol8.iss1.art14SISTEM INFORMASI PENERIMAAN SISWA BARU (PSB) BERBASIS WEB PADA SDIT MTA SUKOHARJO
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/45659
<p>Penerimaan siswa baru merupakan salah satu kegiatan strategis dalam pengelolaan lembaga pendidikan. Seiring perkembangan teknologi informasi, proses penerimaan siswa baru dituntut untuk berjalan lebih efektif, efisien, dan transparan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan sistem informasi penerimaan siswa baru berbasis web di SDIT MTA Sukoharjo, meliputi proses pelaksanaan, keuntungan yang diperoleh, serta faktor pendukung dan penghambatnya. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan sistem informasi berbasis web mampu mempermudah pendataan calon siswa, meminimalisir kesalahan administrasi, serta meningkatkan efisiensi waktu dan biaya. Faktor pendukung utama meliputi ketersediaan jaringan internet, perangkat keras yang memadai, dan sumber daya manusia yang kompeten, sedangkan faktor penghambatnya adalah keterbatasan literasi digital sebagian orang tua. Dengan demikian, sistem informasi penerimaan siswa baru berbasis web memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas layanan administrasi di SDIT MTA Sukoharjo.</p>Nuur Marfu'atus SholikahDeva Nur SyahroniAisyah SalsabilaNuur Marfu’athus
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108121923110.20885/tullab.vol8.iss1.art15ANALISIS POLA ASUH ORANG TUA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU BULLYING SANTRI DI PONDOK PESANTREN
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/45293
<p>Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam idealnya menjadi ruang pembentukan akhlak dan karakter mulia. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa praktik bullying masih terjadi di lingkungan pesantren dalam bentuk verbal, fisik, sosial, maupun cyberbullying. Penelitian ini bertujuan menganalisis keterkaitan antara pola asuh orang tua dengan perilaku bullying santri di pondok pesantren melalui perspektif Teori Ekologi Bronfenbrenner. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) terhadap artikel jurnal nasional dan internasional terbitan tahun 2013–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa pola asuh otoriter dan permisif berkontribusi terhadap meningkatnya perilaku agresif dan kecenderungan bullying pada santri Sebaliknya, pola asuh demokratis (authoritative) berperan protektif dalam membentuk empati, kontrol diri, dan keterampilan sosial anak. Selain faktor keluarga, pengaruh teman sebaya dan budaya senioritas di pesantren turut memperkuat praktik bullying. Penelitian ini menegaskan pentingnya sinergi antara orang tua dan pesantren dalam menerapkan pola asuh yang sehat serta pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam untuk mencegah bullying.</p>Atikah SalwaHanifah Qodriyaturrosidah
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108123224210.20885/tullab.vol8.iss1.art16MAQASHID SYARIAH PADA PERIODE MODERN ALAL AL-FASHI DAN AR-RAISUNI
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/46053
<p>Artikel ini membahas pemikiran maqāṣid al-syarī‘ah pada periode modern melalui perspektif dua tokoh penting, yaitu Alal al-Fasi dan Ahmad al-Raisuni. Kajian maqāṣid al-syarī‘ah memiliki peran strategis dalam pengembangan hukum Islam agar tetap relevan dalam merespons dinamika sosial dan tantangan modernitas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep maqāṣid al-syarī‘ah menurut Alal al-Fasi, menganalisis teori maqāṣid al-syarī‘ah dan maqāṣid al-Qur’an menurut Ahmad al-Raisuni, serta membandingkan pemikiran keduanya dalam konteks hukum Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari karya-karya primer kedua tokoh serta literatur sekunder yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan metode deskriptif dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Alal al-Fasi menekankan maqāṣid al-syarī‘ah sebagai ruh syariat yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial melalui ijtihad, pendidikan, dan pembaruan pemikiran Islam. Sementara itu, Ahmad al-Raisuni mengembangkan maqāṣid secara lebih sistematis dan metodologis dengan membagi maqāṣid ke dalam maqāṣid umum, khusus, dan parsial, serta mengaitkannya dengan maqāṣid al-Qur’an. Perbandingan kedua pemikiran ini menunjukkan adanya kesinambungan antara dimensi praksis dan metodologis maqāṣid al-syarī‘ah, yang berkontribusi dalam memperluas cakrawala hukum Islam agar lebih kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan umat.</p>Wahyuni Danial KhotimahRadifa Isnain NafilaYusron PahleviTutik HamidahAhmad Izzuddin
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108124325110.20885/tullab.vol8.iss1.art17PERKEMBANGAN MAQASHID SYARIAH PADA PERIODE KLASIK: STUDI PEMIKIRAN AL-JUWAINI DAN AL-GHAZALI
https://journal.uii.ac.id/thullab/article/view/45987
<p>Maqashid syariah sebagai tujuan pokok hukum Islam menempati posisi sentral dalam perkembangan ilmu ushul fiqh. Periode klasik, khususnya melalui pemikiran al-Juwaini (w. 478 H) dan al-Ghazali (w. 505 H), memberikan fondasi konseptual yang kemudian disempurnakan oleh generasi sesudahnya. Artikel ini menelaah secara komprehensif gagasan maqashid syariah dalam pemikiran kedua tokoh tersebut. Al-Juwaini menekankan pentingnya maslahat dan membaginya dalam tingkatan dharuriyyat, hajiyyat, dan tahsiniyyat. Al-Ghazali kemudian menyusun secara sistematis lima tujuan pokok syariah (al-dharuriyyat al-khams), yaitu hifz al-din, hifz al-nafs, hifz al-‘aql, hifz al-nasl, dan hifz al-mal. Melalui perbandingan dan analisis, artikel ini menunjukkan bahwa al-Juwaini adalah konseptor awal, sedangkan al-Ghazali merupakan formulator maqashid syariah. Keduanya menjadi landasan teoritis yang mempengaruhi pemikiran ulama sesudahnya, seperti al-Syatibi pada periode pertengahan, hingga teori maqashid kontemporer.</p>Pepy MarwinataWahyuni Danial Khotimah Yusron PahleviTutik Hamidah
Copyright (c) 2026
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-nd/4.0
2026-01-102026-01-108110.20885/tullab.vol8.iss1.art18