Main Article Content
Abstract
Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola belajar mahasiswa, termasuk dalam bidang akuntansi yang membutuhkan pemahaman konseptual dan keterampilan praktis. Pembelajaran konvensional sering kali dianggap kurang menarik dan tidak selalu mampu memberikan penjelasan aplikatif, sehingga mahasiswa mencari alternatif sumber belajar yang lebih fleksibel dan mudah diakses. Media sosial kemudian menjadi salah satu pilihan utama, karena menyediakan konten edukatif berbasis visual, ruang berbagi informasi, dan interaksi akademik yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Platform seperti YouTube, Instagram, WhatsApp Group, dan Google Classroom banyak dimanfaatkan mahasiswa untuk memahami materi akuntansi, berdiskusi, serta mengikuti perkembangan profesi. Namun demikian, penggunaan media sosial sebagai sumber belajar juga menghadapi tantangan, seperti rendahnya literasi digital, sulitnya memverifikasi kredibilitas informasi, dan potensi distraksi dari konten non-akademik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka untuk menelaah peran media sosial dalam pembelajaran akuntansi. Analisis dilakukan terhadap berbagai literatur terkait media pembelajaran, perilaku belajar mahasiswa, serta pemanfaatan media sosial dalam pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan sebagai media belajar tambahan, sarana interaksi akademik, dan alat pengembangan kompetensi profesional. Media sosial terbukti memperluas akses belajar, meningkatkan keterlibatan mahasiswa, serta membantu mereka menghubungkan teori dengan praktik. Meski bermanfaat, efektivitasnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa dalam memilih sumber yang kredibel serta bimbingan dosen dalam mengarahkan penggunaan media sosial secara tepat. Dengan demikian, media sosial memiliki potensi signifikan dalam mendukung pendidikan akuntansi apabila digunakan secara bijak dan terstruktur.