Main Article Content
Abstract
Tulang panggul memiliki fungsi fisiologis yang menghasilkan perbedaan morfologi signifikan antara laki-laki dan perempuan, suatu fenomena yang dikenal sebagai dimorfisme seksual. Dalam lingkup antropologi forensik, karakteristik dimorfisme ini menjadi aspek fundamental dalam diagnosis penentuan jenis kelamin biologis. Secara konvensional, evaluasi fitur dimorfis dilakukan menggunakan metode non-metris melalui pengamatan makroskopis langsung, namun saat ini telah terjadi pergeseran paradigma penelitian menuju metode metris yang lebih objektif. Selain itu, integrasi algoritma machine learning pada metode non-metris kini semakin lazim diterapkan guna mencapai tingkat akurasi estimasi yang lebih presisi. Artikel ini mengulas fitur-fitur anatomis panggul yang menunjukkan dimorfisme, transformasi metodologi dari pendekatan kualitatif ke kuantitatif, serta arah perkembangan penelitian yang berimplikasi pada praktik antropologi forensik modern.
Kata kunci: dimorfisme seksual; tulang panggul; perkiraan jenis kelamin; antropologi forensik; machine learning; metode metris.
Article Details
Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
