Main Article Content
Abstract
Latar Belakang: Cedera Otak Traumatik (COT) merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, khususnya di negara berkembang dengan angka mortalitas yang tinggi pada populasi dewasa muda. Trauma tumpul pada kepala dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahannya dan sering kali berujung pada kematian akibat kerusakan organ vital, perdarahan intrakranial, serta komplikasi sistemik. Identifikasi patologi forensik yang presisi sangat diperlukan untuk menentukan mekanisme kematian pada kasus kekerasan tumpul (blunt force trauma).
Deskripsi Kasus: Kami melaporkan kasus kematian seorang laki-laki yang diduga akibat penganiayaan massa. Jenazah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSUD Dr. Soetomo Surabaya untuk pemeriksaan berdasarkan surat permintaan visum et repertum. Pemeriksaan luar menunjukkan tanda kekerasan tumpul berupa luka lecet pada regio frontal, labial, dan ekstremitas atas, serta luka memar pada area periorbital dan mukosa bibir. Pemeriksaan dalam (autopsi) mengungkapkan adanya resapan darah pada kulit kepala bagian dalam, perdarahan subaraknoid, perdarahan intraventrikular, serta petekie pada parenkim otak. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi adanya kongesti pembuluh darah yang signifikan pada serebrum dan batang otak.
Simpulan: Berdasarkan temuan autopsi dan pemeriksaan penunjang, penyebab kematian disimpulkan sebagai akibat kekerasan tumpul pada kepala yang menyebabkan perdarahan intrakranial masif dan memicu mekanisme asfiksia (mati lemas). Kasus ini menegaskan krusialnya pemeriksaan forensik menyeluruh dalam pembuktian kausalitas kematian pada kasus trauma tumpul.
Kata kunci: cedera otak traumatik; kekerasan tumpul; autopsi forensik; perdarahan intrakranial; penganiayaan; asfiksia.
Article Details
Copyright (c) 2026 Berkala Ilmiah Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
