Main Article Content

Abstract

Gangguan makan pada remaja dengan diabetes mellitus tipe 1 (DMT1) merupakan masalah klinis kompleks dengan prevalensi mencapai 22,6%, yang didominasi oleh other specified feeding or eating disorders (OSFED). Kondisi ini meningkatkan risiko mortalitas hingga tiga kali lipat akibat mekanisme patofisiologi yang melibatkan disfungsi regulasi glukosa dan perilaku maladaptif, seperti manipulasi dosis insulin demi penurunan berat badan. Dampak klinisnya sangat signifikan, mencakup peningkatan risiko ketoasidosis diabetikum (OR 3,2) dan komplikasi mikrovaskular yang berat. Oleh karena itu, parameter klinis seperti HbA1c >9% dan frekuensi rawat inap menjadi indikator krusial dalam pemantauan pasien.


Skrining dini menggunakan instrumen Diabetes Eating Problem Survey-Revised (DEPS-R) terbukti memiliki konsistensi internal yang tinggi dan sangat efektif dalam mendeteksi gangguan secara dini. Penatalaksanaan yang bersifat multidisiplin, melibatkan kolaborasi antara dokter spesialis endokrin, psikiater, dan ahli gizi, terbukti mampu menurunkan angka hospitalisasi hingga 45% serta memperbaiki kontrol glikemik secara substansial. Strategi pencegahan melalui psikoedukasi keluarga dan penerapan protokol standar tidak hanya memperbaiki luaran klinis tetapi juga meningkatkan skor kualitas hidup pasien secara signifikan. Tinjauan ini menegaskan pentingnya integrasi aspek medis dan psikososial dalam tata laksana komprehensif populasi remaja dengan DMT1.


Kata kunci: diabetes mellitus tipe 1; gangguan makan; remaja; manajemen multidisiplin; penyalahgunaan insulin; intervensi berbasis bukti.

Article Details