Main Article Content

Abstract

Latar Belakang: Parasetamol merupakan obat analgesik-antipiretik yang paling umum digunakan karena memiliki profil efek samping yang relatif minim dibandingkan golongan analgesik lain. Namun, penggunaan jangka panjang atau dosis berlebih dapat memicu kerusakan hati (hepatotoksisitas). Mekanisme kerusakan ini terutama disebabkan oleh akumulasi metabolit toksik N-acetyl-p-benzoquinone imine (NAPQI) akibat saturasi jalur glukuronidasi, yang memicu stres oksidatif pada sel hepar.


Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas hepatoprotektor ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza) dalam mencegah kerusakan fungsi hati yang diakibatkan oleh induksi parasetamol.


Metode: Penelitian ini merupakan studi eksperimental laboratoris menggunakan 25 ekor tikus putih galur Wistar yang dibagi secara acak menjadi lima kelompok. Kelompok kontrol negatif hanya diberikan akuades; kontrol positif diinduksi parasetamol dosis 2 g/kgBB selama tiga hari terakhir; dan tiga kelompok perlakuan diberikan ekstrak C. xanthorrhiza dengan variasi dosis bertingkat (800 mg/kgBB, 1600 mg/kgBB, dan 3200 mg/kgBB) sebelum induksi. Parameter kerusakan hati dinilai melalui pengukuran kadar enzim Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) dari sampel darah sinus orbital.


Hasil: Hasil pengukuran menunjukkan bahwa seluruh kelompok yang menerima perlakuan ekstrak memiliki kadar enzim transaminase yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol positif. Penurunan kadar SGOT dan SGPT yang paling signifikan dan optimal terlihat pada kelompok perlakuan dengan dosis 800 mg/kgBB, yang mendekati nilai normal.


Simpulan: Pemberian ekstrak Curcuma xanthorrhiza terbukti memiliki efek hepatoprotektif yang efektif terhadap kerusakan hati akibat induksi parasetamol, dengan dosis 800 mg/kgBB sebagai dosis yang memberikan proteksi paling optimal.


Kata kunci: hepatoprotektor; Curcuma xanthorrhiza; parasetamol; fungsi hati; SGOT; SGPT.

Article Details

Author Biographies

Arini Rizky Wijayanti, Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia, Yogayakarta, Indonesia

patologi anatomi

Nur Aini Djunet, Departemen Biokimia, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia, Yogayakarta, Indonesia

biokimia

Ernadita Budi Astuti, Departemen Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia

fisiologi

Marlina Anggraeni, Departemen Farmakologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia

farmakologi