Main Article Content

Abstract

Many urban cities in Indonesia face critical challenges such as limited green open spaces, declining environmental quality, and spatial pressure driven by rapid population growth. These conditions threaten urban environmental resilience, particularly in maintaining quality of life and sustainable resource use. This study aims to formulate adaptive green infrastructure planning strategies for the Baciro historical neighbourhood in Yogyakarta to enhance environmental quality while preserving the area’s cultural identity. A qualitative case study approach was employed, combining spatial planning documents, field observations, and stakeholder interviews. The findings indicate that despite limited open spaces, Baciro offers significant opportunities for green infrastructure development through the utilization of residual and vertical spaces, including narrow alleys, riverbanks, and commercial building façades. Proposed strategies include the implementation of vertical gardens, green corridors, revitalized riverfronts, and pedestrian-friendly green streets. These interventions contribute ecological functions—such as water infiltration, microclimate regulation, and air quality improvement—while also strengthening social cohesion through community participation. Furthermore, integrating green infrastructure with the Transit Oriented Development (TOD) concept expands its role in promoting sustainable mobility and liveable urban spaces. This research demonstrates that green infrastructure can serve as a strategic instrument for achieving urban environmental resilience while safeguarding historical heritage in the face of urbanization pressures. The results provide insights and practical implications for planning similar historic neighbourhoods across Indonesian cities that encounter comparable spatial and environmental challenges.

Keywords

green infrastructure urban resilience historical neighborhood urban planning site planning

Article Details

How to Cite
Mistoro, N. H., Yulianto, A., Rahmawati, S., & Putro, M. K. L. W. (2026). Strategi Infrastruktur Hijau dalam Mendukung Ketahanan Lingkungan Perkotaan di Kawasan Historis Baciro, Yogyakarta: Indonesia. AJIE (Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship), 10(1), 55–66. https://doi.org/10.20885/ajie.vol10.iss1.art5

References

  1. Aghnia, H., & Umilia, E. (2018). Arahan peningkatan keberlanjutan hutan kota di Kota Surabaya [Tugas akhir, Institut Teknologi Sepuluh Nopember]. ITS Repository. https://repository.its.ac.id/53686/1/08211440000015%20HASYA%20AGHNIA.pdf
  2. Al Faraby, J., Trisedya, R. A. A., Priambudi, B. R. J. N., & Pramesti, A. Z. (2024). Tipologi aplikasi infrastruktur hijau skala komunitas pada kampung kota di Indonesia. Jurnal Lanskap Indonesia, 16(1), 38–47.
  3. Direktorat Jenderal Cipta Karya. (2005). Revitalisasi lingkungan permukiman tradisional. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
  4. Fitri, H., & Sari, A. A. (2025). Exploring the urban greening community in Jakarta’s urban kampung: A tactical urbanism perspective. Sustainability, 17(9), 3904.
  5. Hidayah, R., Sativa, S., & H., S. (2021). Strategi pemenuhan ruang terbuka hijau publik di Kota Yogyakarta. INERSIA: Informasi dan Ekspose Hasil Riset Teknik Sipil dan Arsitektur, 17(1), 11–18.
  6. Hildayanti, A. (2020). Strategi pelestarian kawasan cagar budaya dengan pendekatan revitalisasi. TIMPALAJA: Architecture Student Journals, 2(1), 72–82.
  7. Krisnugrahanto, P. A., & Zulkaidi, D. (2020). Strategi terintegrasi untuk pengelolaan kawasan cagar budaya di Kota Surakarta. Kalpataru, 29(2), 65–86.
  8. Hakim, A. L., & Sulistyantara, B. (2024). Perencanaan green infrastructure pada lanskap transit oriented development (TOD) Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Jurnal Lanskap Indonesia, 16(2), 99–108.
  9. Lukman, M., Alfakihuddin, B., Hasyim, A., Dewi Kuraesin, A., Sena, B., & Radjawane, L. E. (2024). Peran infrastruktur hijau perkotaan dalam meningkatkan kualitas udara di Jakarta. Unitek, 17(1), 12–13.
  10. Prana, A. M., Tresani, N., Winayanti, L., Apriyanto, H., & Prasetya, H. (2024). Pengaruh commuter-rail rute Jakarta–Bogor terhadap pengembangan kawasan dan potensinya dalam mendukung transit oriented development. Plano Madani, 13(1), 129–142.
  11. Pratiwi, R. D. (2019). Persepsi dan preferensi masyarakat terhadap infrastruktur hijau Kota Yogyakarta. Jurnal Lanskap Indonesia, 11(1), 33–43.
  12. Pratiwi, R. D., Fatimah, I. S., & Munandar, A. (2018). Spatial planning for green infrastructure in Yogyakarta City based on land surface temperature. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 179(1), 012004.
  13. Priono, Y. (2012). Pengembangan kawasan ekowisata Bukit Tangkiling berbasis masyarakat. Jurnal Perspektif Arsitektur, 7(1), 51–67.
  14. Priscannanda, F., & Hindersah, H. (2022). Identifikasi kemampuan berbagai jenis green infrastructure dalam upaya mengurangi banjir pada DAS Ciliwung Hilir DKI Jakarta. Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota, 23–35.
  15. Putra, B. D., Horne, R., & Hurley, J. (2019). Place, space and identity through greening in kampung kota. Journal of Regional and City Planning, 30(3), 211–223.
  16. Putri, P. A. V. A., & Santoso, E. B. (2020). Analisis pemangku kepentingan dalam pengembangan kawasan cagar budaya sebagai destinasi wisata Kota Pontianak. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 8(3), 202–213.
  17. Putriani, O., & Fauzi, I. (2018). A comparative study of transit oriented development (TOD) at Yogyakarta Railway Station. MATEC Web of Conferences, 181, 02001.
  18. Rahardjo, S. (2013). Beberapa permasalahan pelestarian kawasan cagar budaya dan strategi solusinya. Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur, 7(2), 4–17.
  19. Rahmi, D. H. (2017). Building resilience in heritage district: Lesson learned from Kotagede Yogyakarta Indonesia. IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, 99(1), 012006.
  20. Senjana, S., Junara, N., & Mutiara, E. (2021). Pemanfaatan pocket park sebagai infrastruktur hijau di permukiman Islami (studi kasus: Kampung Arab, Kota Malang). Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota, 17(2), 207–213.
  21. Sinatra, F., Azhari, D., Asbi, A. M., & Irfan Affandi, M. (2022). Prinsip pengembangan ruang terbuka hijau kota sebagai infrastruktur hijau di Kota Bandar Lampung. Jurnal Planologi, 19(1), 19–37.
  22. Sukada, N., & Salura, P. (2020). Basic architectural expression of a cultural center: Study object: Volkstheater Sobokartti in Semarang, Indonesia. ARTEKS: Jurnal Teknik Arsitektur, 5(1), 11–20.
  23. Sumaryana, H., Buchori, I., & Sejati, A. W. (2022). Dampak perubahan tutupan lahan terhadap suhu permukaan di perkotaan Temanggung: Menuju realisasi program infrastruktur hijau. Majalah Geografi Indonesia, 36(1), 68.
  24. Suratman, F. N., & Darumurti, A. (2021). Collaborative governance dalam pengelolaan ruang terbuka hijau publik (RTHP) di Kota Yogyakarta. Jurnal Pemerintahan dan Kebijakan (JPK), 2(2), 102–121.
  25. Widiastuti, K. (2013). Taman kota dan jalur hijau jalan sebagai ruang terbuka hijau publik di Banjarbaru. MODUL, 13(2), 57–64.
  26. Wulandari, R., Witjaksono, R., & Inekewati, R. (2021). Community participation in the development of urban farming in Yogyakarta City. E3S Web of Conferences, 232, 01024.
  27. Wulandhanti, A., & Setiawan, R. P. (2021). Arahan pengembangan infrastruktur hijau sebagai pendukung pasokan air di Surabaya. Jurnal Teknik ITS, 10(2).