Vol. VI, No. 1, Agustus 2006 Kejahatan Terorisme antara Isu dan Praktik

Assalamu'alatkum Wr. Wb. Terorisme merupakan salah satu isu fenomenal setelah terjadi tragedi runtuhnya menara WTC 11 September 2001. Peristiwa ini banyak membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat dunia. Menyikapi isu terorisme ini, masyarakat dunia yang terpolarisasi kepada Timur dan Barat mempunyai perspektif berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan perspektif ini karena belum ada definisi baku yang disepakati tentang terorisme. Menurut sebagian pakar, istilah terorisme merupakan suatu terminologi yang ambigu dan kabur. Michael Kinsley, seorang kolumnis yang menulis dalam Washington Post, 5 Oktober 2001, mengatakan bahwa usaha mendefinisikan terorisme adalah sesuatu yang mustahil. Tidak ada kesepakatan tentang definisi terorisme ini menimbulkan beragam definisi sesuai dengan latar belakang ‘kepentingan' yang mendefinisikan, namun definisi terorisme yang diterima oleh banyak orang adalah definisi yang dibuat oleh penguasa dan kekuasaan yang mampu memaksakan kehendaknya dengan segala kemampuannya, baik militer, politik, ekonomi, teknologi, dan kekuatan budayanya.      


Sentimen agama sering menjadi salah satu penyebab terorisme dan radikalisme. Menurut Whittaker, terorisme memang dapat muncul karena ajaran agama atau motivasi agama. Hal ini diperkuat bahwa para pelaku ledakan mulai dari WTC, ledakan-ledakan yang terjadi di Indonesia, Madrid, London dan lain-lain yang berasal dari kalangan Islam fundamentalis. Menurut pelaku ledakan tersebut, yang mereka lakukan adalah reaksi terhadap kebrutalan AS dan sekutu-sekutunya dalam percaturan politik internasional, bukan tindakan terror yang muncul tiba-tiba diruang hampa.  


Terorisme yang marak akhir-akhir ini sebenarnya bukan dilator belakangi oleh ajaran agama. Aksi kekerasan tersebut lebih mengarah pada reaksi terhadap ketidakadilan global dan tindakan negara-negara Barat, khususnya Amerika yang selalu melakukan teror dan mendukung teror Israel terhadap para pejuang Palestina dan sebagian Negara Muslim. Ketika AS sebagai lambing kapitalisme dan sekularisme mendominasi peradaban Barat, karakteristik benturan kepentingan tidak lagi di bangun atas konsep teologis, dan ideologis. Konflik peradaban lebih dibangun atas kepentingan politik, ekonomi dan pertahanan.  


Tuduhan yang dilemparkan terhadap Islam berkaitan dengan terorisme merupakan rekayasa yang dilakukan oleh media masa yang berafiliasi dengan pemerintah Amerika dan rezim Zionis.-Media massa menggunakan momentum l lr. Septemberuntuk menciptakan citra bahwa semua muslimin adalah teroris dan agama Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan.  


Aksi teror yang semakin sering terjadi secara otomatis berdampak pada hubungan antara Islam dan Batat. Dalam kaitan dengan sejarah hubungan Islam- Barat, memang banyak peristiwa sejarah yang masih menjadi memori kelabu dalam memori kolektif Barat Memori ini tampak terbuka setelah isu terorismeyang secara terang-terangan memojokkan posisi umat Islam. Ada sebagian orang yang memanfaatkan situasi dunia yang dipenuhi oleh hiruk pikuk perang melawan terorisme, untuk menyejajarkan Islam dengan faham kekerasan dan umat Islam dengan kelompok teroris. Untuk tujuan itu,mereka menenuhi media massa dengan berbagai makalah dan artikel serta membuat sejumlah film yang isinya memojokkan Islam dan umat muslim.   


Upaya yang mungkin dilakukan untuk menyelesaikan terorisme antara lain dengan dialog antar peradaban-antar agama, optimalisasi peran pendidikan dan kebudayaan. Selain itu didukung dengan maksimalisasi peran organisasi-organisasi Islam, baik internasional maupun nasional untuk menjelaskan Islam Humanis yang cinta damai, sebagai upaya menepis tudingan Islam agama kekerasan dan biang teror di dunia modern ini.


Setelah tragedi 11 September 2001, hampir semua negara yang mempunyai kelompok Islam garis keras berupaya sekuat tenaga untuk menyumbangkan berbagai pandangan untuk mengatakan bahwa umat Islam bukan teroris, dan tidak semua aksi teroris itu mewakili umat Islam. Namun demikian hal ini belum mampu menepis kecurigaan Barat terhadap Islam.


Untuk kepentingan itu, Millah ikut memberikan sumbangan wacana tentang isu terorisme. Millah pada edisi ini memuat beberapa ide antara lain: menggali asal kata terorisme dari berbagai kamus bahasa Arab; mengelaborasi definisi teror; menjelaskan nexus antara agama dan terorisme, kemudian menegaskan bahwa Islam bukanlah agama teror; menelaah terorisme dalam diskursus hubungan Islam dan Barat; tawaran solusi penyelesaian masalah terorisme dengan penyusunan undang-undang anti teror, pendekatan kultural dan pendekatan agama. Kami berharap sumbangan pemikiran ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pembaca jurnal Millah. Selamat membaca.


Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

Published: August 31, 2006

Vol. V, No. 2, Februari 2006 Pemberantasan Korupsi dan Dekonstruksi Budaya

Assalamu'alaikum Wr. Wb.


Berbicara masalah korupsi, maka ini adalah masalha "tangan-tangan kotor'. Robert Fullinwider, misalnya, kerap dikutip mengatakan bahwa kita butuh politikus seperti kita butuh tukang sampah, jadi seharusnya kita sudah menduga kalau bakal bau (Peter Singer, ed.: 1993). Korupsi memang masalah penyalahgunaan wewenang. kalau korupsi dipahami hanya sekedar penyelewengan nilai-nilai moral dan agama, maka tidak akan pernah berjumpa dengan Indonesia nirkorupsi. Bahwasanya kita sudah menghabiskan bertriliun rupiah untuk penataran P4 atau sekarang ada PPKN, dan bahkan satu dari sedikit negara modern yang punya pelajaran agama dari SD sampai universitas, tetapi terus jawara dalam peringkat korupsi antar negara.


Di Indonesia, korupsi apakah sudah bisa disebut membudaya atau baru taraf proses menuju ke sana? tidak begitu jelas. Di zaman Orde Lama dan juga Orde Baru, korupsi memang luar biasa. Menteri-menteri Soekarno dan juga Soeharto melakukan korupsi tanpa malu-malu dan mengakibatkan rakyat menanggung beban dengan merosotnya kondisi ekonomi negara, ditambah lagi meningginya tingkat inflasi sampai 400 persen lebih. Para pejabat negara berhura-hura dengan berbagai kemewahannya sedangkan rakyat dibuat sengsara olehnya.


Kini, korupsi dan kolusi tumbuh sedemikian hebatnya. Hampir di setiap institusi pemerintah dari RT sampai  tingkat tinggi terjadi korupsi dan kolusi, apa bukti ini belum cukup? Memang, banyak pakar yang tidak sepakat kalau korupsi disebut sebagai budaya. Akan tetapi, seperti halnya kemiskinan dianggap semacam budaya oleh Oscar Lewis karena mempunyai semacam tatanan nilai yang ikut melakukan determinasi terhadap perilaku para penyandangnya, kiranya demikian pulalah korupsi.


Sebuah tindak korupsi juga menghadirkan budaya korupsi—misal peningkatan pola konsumtif yang mendorong perilaku lanjut korupsi—maupun virus korupsi yang merangsang tindak korupsi lain di sekitar pengidapnya. Kita tentu ingat betapa para tersangka korupsi KPU sedang membangun rumah mewah, dan betapa korupsi di KPU menularkan rangkaian korupsi di BPK, Departemen Keuangan, dan bahkan DPR.


Telah lama pakar menggambarkan bagaimana kapital mempunyai logika preservasi-akumulasi tertutup yang sama untuk lebih terus merawat dan mengakumulasi dirinya sendiri belaka (Karl Max, 1844:1961). Dalam hal ini, kiranya korupsi merupakan penyakit yang lebih buruk karena memiliki logika secorak tapi tak mewarisi budaya enterpreneur serupa. Dalam logika preservasi-akumulasitertutup semacam ini, seorang koruptor sejati kiranya sibuk mengurusi kepentingan dirinya sendiri belaka sehingga sukar dibayangkan akan berpikir untuk kemajuan dan kesejahteraan orang banyak.


Pada edisi ini, Jurnal Millah dengan sengaja membongkar akar korupsi dari berbagai perspektif agar pembacaan terhadap korupsi menjadi komprehensif, sehingga ada kontribusi pepemikiran secara akademik dalam mereduksi meluasnya virus yang sudah kadung membudaya di masyarakat.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Published: February 28, 2006

Vol. II, No.1, Agustus 2002

Published: August 2, 2016

Vol. I, No. 2, Januari 2002

Published: August 2, 2016

Vol. I, No. 1, Agustus 2001

Published: July 28, 2016