Salah satu karakteristik negara berkembang adalah menghadapi problema kemiskimn. Indonesia pun dililit problematik tersebut, yang tercermin dari masih banyaknya penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan tersebut. Namun, walaupun kemiskinan ini merupakan masalah yang melekat dalam perekonomian Indonesia sejak hadirnya bangsa Indonesia yang merdeka ini, pembicaraan kemiskinm secara terbuka baru muncul diawal tahun l980-an. Sebelum itu masyarakat termasuk kalangan ilmuan, seakan "tabu" menyibak kemiskinan di tanah air ini. Akibatnya persoalan itu pun tidak bisasecara cepat diatasi.

Sekarang ini keadaannya sudah sangat lain. Orang tidak lagi tabu berbicara mengenai banyaknya penduduk miskin, mencari sebab-sebab kemiskinan, atau mengkritik kebijaksanaan pemerintah yang dipandang malah menimbulkan proses kemiskinan. Iklim yang demikian justru sangat positif, karena masalah yang ada bisa dikaji dan dipecahkan bersama-sama. Orang lebih banyak mendiskusikan untuk mencari jalan keluar yang dipandang tepat. jadi, dapat diduga keberhasilan menurunkan secara cukup besar jumlah penduduk miskin di tanah air ini, ada hubungannya dengan "kebebasan" untuk mendiskusikan masalah tersebut.

Namun demikian, walaupun secara absolut jumlah penduduk miskin ini sudah menurun, masih saja ada rasa kurang puas. Kita ingin cepat-cepat menghapuskan kemiskinan dari bumi Indonesia ini. Dan ini didukung pula oleh program pemerintah yang pada awal PJP II ini mengintrodusir program baru yang dikenal dengan Inpres Desa Tertinggal. Dalam kaitan untuk menampung berbagai pokok pikiran tentang kemiskinan itu pula majalah UNISIA mengadakan seminar, yang makalah-makalahnya tersaji dalam edisi sekarang ini.

Dr. Djamaludin Ancok melihat, peluang untuk mengentaskan kemiskinan ini sebenamya cukup besar. Syaratnya, kaum miskin diberi peluang yang lebih besar untuk mengurus dirinya sendiri, mempengaruhi keputusan, dan berpratisipasi dalam kegiatan yang mempengaruhi kemampuan ekonomi dan kesejehteraan hidup mereka. Pemerintah, menurutAncok, sejauh mungkin dibatasi pada upaya merealisasikan kehendak masyarakat, penyediaan dana dan prasarana.

Sayangnya, menurut penilaian Dr. Sunyoto Usimn, pemerintah kita selama ini terlalu banyak campur tangannya dalam setiap aktivitas masyarakat termasuk aktivitas produksi. Peran yang sangat menempatkan pemerintah dalam posisi sentral aktivitas pembangunan ini justru tidak begitu kondusif untuk mempercepat proses penanggulangan kemiskinan ini.

Soal kemiskinan ini juga disoroti dari kacamata agama. Dr. Musa Asy'arie menyatakan kemiskinan inidapat memperlemah iman dan membawa kepada kekufuran. Karena itu kemiskinan ini memang perlu dihilangkan, karena merupakan ancaman dan tantangan bagi keberagamaan. Kendati demikian, tidak berarti agama meremehkan orang miskin. Dalam tata pergaulan manusia, semua manusia adalah sama, dan dibandingkan Tuhan semua manusia adalah miskin.

Dalam seminar sehari yang diadakan tersebut, muncul pula pemikiran-pemikiran tentang kemiskinan ini dari Syafaruddin Alwi, Bachruddin, serta pengalaman lapangan dari orang yang banyak terlibat menanggulangi kemiskinan, Dr. Bambang Setiadji dan Imam Nurhidayat. Pengalaman lapangan ini nampaknya perlu kita telusuri dan cermati, karena pendekatan-pendekatan spesifik yang dilakukannya mampu secara langsung membantu mengangkat derajat hidup masyarakat miskin tersebut.

Kontributor karangan lain, yang kita tampilkan pada edisi ini adalah makalah Prof. Dr. Nurimansyah Hasibuan. Secara khusus ia menyoroti perah sektor informal dalam mengatasi kemiskinan ini. Rekomendasinya yang cukup menarik agar peran sektor informal ini berkembang adalah diperlukannya bank formal untuk sektor informal. Pemikiran lengkap mengenai berbagai sisi kemiskinan ini tentu dapat diikuti dalam artikel yang ada dalam majalah ini.

Seperti biasanya, disamping topik utama lain yang dimunculkan dalam setiap edisi. Kita bisa membaca, misalnya, yang berkaitan dengan masalah teknik, manajemen dan sebagainya.

Dan, mungkin perlu pula diinformasikan, bahwa pada edisi kali ini susunan redaksi sudah mengalami beberapa perubahan. Mudah-mudahan perubahan ini bisa membuat kearah perbaikan. Selamat membaca. (Edy S Hamid)

Published: July 20, 2016

Bayang-bayang Ekonomu Klasik: Sektor Informal dan Pengentasan Kemiskinan

Nuriman Hasibuan (1)
(1)
11-24
139

Pemanfaatan Organisasi Lokal untuk Mengentaskan Kemiskinan

Djamaludin Ancok (1)
(1)
25-30
153

Dimensi Struktural Kemiskinan

Sunyoto Usman (1)
(1)
31-35
161

Ekonomi dan Kemiskinan Tinjauan Agama

Musa Asy'arie (1)
(1)
36-46
269

Pendekatan Pembangunan Terpusat pada Penanggulangan Kemiskinan (Analisis Pendekatan Model Adelman)

Syafaruddin Alwi (1)
(1)
47-52
190

Bantuan-bantuan yang Dibutuhkan untuk Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia

Bachruddin - (1)
(1)
53-60
115

Permasalahan dan Upaya Pengentasan Kemiskinan di Pedesaan

Imam Nurhidayat (1)
(1)
61-67
349

Factors Affecting Management Control System Some Cultural Aspect

Achmad Sobirin (1)
(1)
68-77
103

Perencanaan Gedung Tahan Gempa

Mochammad Teguh (1)
(1)
78-87
197

Penanggulangan Kemiskiinan di Indonesia * Catatan Program IDT dan Kemiskinan Kota

Edy Suandi Hamid (1)
(1)
88-94
145

Menguak Potensi Keswadayaan Masyarakat Desa Tertinggal

Arif Hartono (1)
(1)
95-97
167

Pengembangan Usaha Peternakan Sapi Perah Rakyat Kasus Cangkringan Yogyakarta

Bambang Setiadji (1)
(1)
98-104
173