Kualitas kehidupan sebuah masyarakat ditentukan oleh berbagai faktor. Bukan hanya masalah ekonbmi, namun juga, antara lain, terkait masalah relasi soaial, pola hidup, kehidupan beragama, serta pemerintahaan yang akomodatif terhadap aspirasi rakyat. Kekurangan dari dari salah satu faktor tersebut akan mengakibatkan kelimpangan dalam kehidupan.

Memang, haruslah diakui bahwa permasalahan ekonomi menjadi faktor yang sangat dominan. Hal ini dikarenakan ekonomi memang merupakan salah satu kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi dalam tingkat yang sangat awal. Namun, kemajuan ekonomi saja, pada gilirannya juga tidak akan dapat menyelesaikan problem pewujudan kualitas kehidupan yang baik. Harus ada pelibatan berbagai elemen. Pola relasi sosial yang mendukung terwujudnya hubungan harmonis antar individu, jeias berkontribusi secara signifikan terhadap kualitas kehidupan. Lain daripada itu, aktualisasi kehidupan beragama juga menuntut untuk dilakukan secara adil. Bagaimana membangun paradigma kehidupan keagamaan dalam era yang serba global ini menjadi perlu dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai nilai islam yang sejalan dengan kemajuan kehidupan.

Untuk itu, dalam penerbitan kali ini, Unisia mengangkat berbagai aspek tersebut di atas agar dapat dilakukan analisis secara proporsional. Terkait masalah ekonomi. dua artikel membicarakan masalah kemiskinan. Pertama, mendiskusikan tentang analisis faktor-faktor penentu yang mempengaruhi jumlah penduduk miskin regional di Indonesia. Sedangkan yang kedua, berbicara tentang kompetensi petani jagung lahan gambut di suatu tempat di Pontianak.

Kedua artikel tersebut menunjukkan betapa faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan bukanlah hal yang sederhana. Ada banyak faktor yang saling mempengaruhi. Disamping itu, petani, yang selalu diasosiasikan dengan kemiskinan, juga perlu mendapat perhatian. Salah satu mata rantai kemiskinan petani adalah efisiensi kerja petani, yang hal ini tentu sangat terkait dengan kompetensi. Memang, jarang dicermati bahwa ternyata kompetensi petani merupakan bagian dari permasalahan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Untuk itu kedua artikel terkait dalam penerbitan edisi kali ini sangat penting untuk dicermati lebih jauh.

Artikel lain yang cukup penting adalah bagiamana upaya peningkatan kualitas hidup dapat diwujudkan. Artikel yang bertajuk Meningkatkan Kualitas Hidup dengan Pemaafan, telah memberikan warna yang agak berbeda dari sisi upaya peningkatan kesejahteraan. Bahwa ternyata tidak dapat dipungkiri, aspek non material ini menjadi penting bagi kesejahteraan dan peningkatan kualitas hidup. Pola hidup yang selalu memberikan maaf akan sangat mempengaruhi kualitas hidup. Sedangkan artikel yang berjudul implementasi Keterbukaan informasi Publik, bermaksud memberikan penekanan bahwa keterbukaan informasi merupakan salah satu hak yang harus dinikmati oleh masyarakat. Meski tidak secara langsung, namun keterbukaan ini dapat menjadi indikator dari kondisi kualitas kehidupan masyarakat. Terpenuhinya hak-hak ini bagi masyarakat jeias akan menjadikan kehidupan kemasyarakat dan kehidupan bernegara semakin harmonis.

Malasah kegamaan dan kearifan lokal juga menjadi perhatian dalam penerbitan kali ini. Artikel terkait bagaimana ijtihad ekonomi mesti dilakukan di era globalisasi berupaya memberikan pemahaman bagaimana model keberagamaan dalam ranah ekonomi harus dilakukan. Mengingat masalah ekonomi memang merupakan masalah yang selalu berkembang, maka ijtihad dalam hal tersebut di era yang serba global menjadi penting untuk diwacanakan. Hal ini penting karena perlu adanya kesadaran bahwa agama islam memang dapat diberdayakan untuk membantu pemecahan masalah ekonomi.

Sedangkan artikel yang bertajuk Urgensi Revitalisasi Kearifan Lokal di Tengah Ancaman Bencana Alam di Indonesia, menjadi bagian lain dari upaya membangun kesadaran agama dan kearifan lokal bagi upaya peningkatan kualitas kehidupan. Indonesia, yang dalam dekade terakhir ini banyak mengalami bencana, tentu memerlukan manajemen Kemanusiaan yang lebih baik, agar masyarakat di Indonesia dapat mempersepsikan bencana sebagai sesuatu yang wajar dan harus disikapi dengan mental yang kuat. Ketegaran sebuah masyarakat dalam menghadapi berbagai bencana dapat dibangun dengan memberdayakan hal tersebut.

Lain dari itu semua, juga ada artikel- lain yang mengangkat isu manajemen, ialah terkait dengan manajemen tenaga kependidikan di perguruan tinggi, dan satu artikel yang berbicara tentang pergantian manajemen dalam lingkup perusahaan. Meski keduanya cukup menonjol perbedaannya namun, manajemen yang baik, baik dalam lingkup pendidikan tinggi maupun perusahaan perlu selalu diupayakan.

Published: July 21, 2016

Meningkatkan Kualitas Hidup dengan Pemaafan

Fuad Nashori (1)
(1)
214-226
2558

Urgensi Ijtihad Ekonomi Pada Era Globalisasi

Amir Mu'allim (1), M. Roem Syibly (2)
(1) ,
(2)
227-238
572

Kompetensi Petani Jagung Lahan Gambut di Desa Limbung, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat

Malta - (1)
(1)
239-249
152

Urgensi Revitalisasi Kearifan Lokal di Tengah Ancaman Bencana Alam Indonesia

Pahrudin HM (1)
(1)
250-257
415

Pemetaan Tenaga Kependidikan Tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia

Suhartini - (1)
(1)
258-274
139

Pengaruh Pergantian Manajemen, Kesulitan Keuangan, Fee Audit, Opini Akuntan dan Ukuran Kap Terhadap Audit Changes

Reni Yendrawati (1)
(1)
275-284
244

Analisis Faktor-Faktor Penentu yang Mempengaruhi Jumlah Penduduk Miskin Regional di Indonesia

Unggul Priyadi (1), Jati Asmoro (2)
(1) ,
(2)
285-293
462

Implementasi Keterbukaan Informasi Publik di Kabupaten Sleman

Arief Hartanto (1)
(1)
294-301
561

Hak Pengelolaan, Hak yang Masih Dipertanyakan

Riky Rustam (1)
(1)
302-305
143